4 Hal Ini Bisa Bikin Kamu Berkeringat Berlebihan
TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Berkeringat merupakan respons fisiologis alami tubuh untuk menjaga suhu tetap stabil, khususnya saat cuaca panas atau setelah melakukan aktivitas fisik. Namun, apabila produksi keringat terjadi secara berlebihan meski dalam kondisi istirahat atau berada di lingkungan sejuk, hal ini dapat menandakan adanya gangguan medis yang perlu diwaspadai.
Dalam dunia medis, kondisi berkeringat secara tidak wajar disebut hiperhidrosis, dan bisa menjadi gejala dari gangguan sistem saraf, hormonal, hingga metabolik. Berikut empat penyebab umum berkeringat berlebihan yang patut dikenali:
1. Hiperhidrosis (Produksi Keringat Berlebih tanpa Sebab Jelas)
Hiperhidrosis adalah kondisi ketika kelenjar keringat menjadi hiperaktif tanpa rangsangan fisik atau suhu yang tinggi. Penderita dapat berkeringat berlebihan pada telapak tangan, kaki, ketiak, dan wajah, bahkan saat dalam kondisi tenang.
Terdapat dua jenis hiperhidrosis: primer, yang umumnya bersifat genetik dan muncul sejak usia muda tanpa penyebab medis yang jelas, dan sekunder, yang biasanya berkaitan dengan penyakit tertentu seperti diabetes, infeksi, atau gangguan neurologis.

2. Gangguan Tiroid (Hipertiroidisme)
Kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) dapat menyebabkan metabolisme tubuh meningkat drastis. Akibatnya, tubuh mudah merasa panas dan memproduksi keringat dalam jumlah besar.
Gejala lain yang menyertai termasuk penurunan berat badan yang tidak disengaja, detak jantung cepat, dan kegelisahan. Diagnosis biasanya ditegakkan melalui pemeriksaan kadar hormon tiroid dalam darah.
3. Hipoglikemia (Gula Darah Rendah)
Keringat dingin juga dapat menjadi gejala hipoglikemia, yakni kondisi ketika kadar glukosa darah turun di bawah normal. Tubuh merespons dengan pelepasan hormon adrenalin, yang memicu gejala seperti jantung berdebar, gemetar, dan keringat berlebih.
Kondisi ini umum dialami oleh penderita diabetes yang mengonsumsi insulin atau obat penurun gula darah. Penanganan segera sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti kehilangan kesadaran atau kejang.
4. Stres Psikologis dan Kecemasan
Faktor psikologis seperti stres, kecemasan, atau serangan panik juga dapat memicu aktivitas berlebihan pada sistem saraf simpatis. Akibatnya, terjadi produksi keringat berlebih terutama di area wajah, ketiak, dan telapak tangan.
Keringat ini umumnya muncul bersamaan dengan gejala lain seperti napas pendek, otot tegang, dan rasa gelisah. Penanganan mencakup manajemen stres, terapi perilaku, hingga intervensi medis jika dibutuhkan.
Produksi keringat yang tidak wajar sebaiknya tidak dianggap sepele. Jika berkeringat berlebihan mengganggu aktivitas harian atau disertai gejala lain yang tidak biasa, konsultasi ke dokter diperlukan untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.

Keringat Berlebihan Bisa Jadi Tanda Masalah Kesehatan, Kenali Penyebab dan Risikonya
Berkeringat merupakan respons fisiologis alami tubuh untuk menjaga suhu tetap stabil. Namun, jika produksi keringat terjadi secara berlebihan meski tidak beraktivitas atau berada di tempat sejuk, kondisi ini bisa mengindikasikan hiperhidrosis, yakni gangguan medis yang menyebabkan kelenjar keringat bekerja secara berlebihan.
Secara klinis, hiperhidrosis terbagi menjadi dua jenis:
Hiperhidrosis primer, umumnya terjadi tanpa sebab medis yang jelas dan sering menyerang area tertentu seperti telapak tangan, ketiak, kaki, dan wajah. Kondisi ini dapat bersifat genetik dan muncul sejak usia muda.
Hiperhidrosis sekunder, biasanya disebabkan oleh kondisi medis tertentu seperti hipertiroidisme, hipoglikemia, menopause, kehamilan, TBC, kanker, obesitas, rheumatoid arthritis, atau karena efek samping penggunaan obat-obatan tertentu, seperti antidepresan dan kemoterapi. Berbeda dengan tipe primer, hiperhidrosis sekunder sering kali melibatkan seluruh tubuh dan bisa terjadi saat tidur.
Beberapa kasus juga menunjukkan bahwa berkeringat berlebihan bisa menjadi gejala dari penyakit serius seperti infeksi kronis, gangguan metabolik, atau masalah hormon tiroid. Misalnya, penderita hipertiroidisme akan mengalami peningkatan metabolisme tubuh yang memicu sensasi panas dan produksi keringat berlebih. Sementara itu, penderita diabetes yang mengalami hipoglikemia (gula darah rendah) juga dapat berkeringat dingin akibat lonjakan hormon adrenalin sebagai respons stres tubuh.

Selain faktor medis, stres emosional juga bisa memicu keluarnya keringat, terutama di area wajah dan telapak tangan, akibat aktivasi sistem saraf simpatis.
Keringat berlebih bukan hanya menyebabkan ketidaknyamanan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kulit seperti iritasi, infeksi jamur dan bakteri, serta menurunkan kepercayaan diri penderitanya. Dalam kasus berat, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup.
Apabila Anda mengalami keringat berlebih yang tidak wajar, terutama bila disertai gejala seperti demam, batuk kronis, penurunan berat badan, atau pembesaran kelenjar leher, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Deteksi dini dapat membantu menentukan penyebab pasti dan memberikan penanganan medis yang tepat, mulai dari terapi farmakologis, tindakan botoks, hingga pembedahan simpatektomi bila diperlukan. (red-win)













