Dalam sambutan liturgis, Pdt. Lusi Meliati Panggabean, S.Th mengajak jemaat untuk tidak hanya mengenang peristiwa sejarah, tetapi juga membawa pergumulan hidup yang nyata ke hadapan Tuhan. Ia menyoroti kondisi banyak orang yang datang dengan jiwa lelah, kecemasan akan masa depan, serta luka batin akibat tekanan hidup dan relasi sosial, sembari menegaskan bahwa pengorbanan Kristus di Golgota menjadi sumber perhentian sejati bagi setiap umat percaya.
Lebih lanjut, jemaat diajak untuk memaknai salib bukan sekadar simbol penderitaan, melainkan sebagai wujud kasih Allah yang terbuka lebar bagi setiap orang, termasuk mereka yang merasa gagal dan tidak layak. Dalam suasana ibadah yang hening dan reflektif, jemaat diimbau untuk meletakkan segala beban hidup di hadapan Tuhan serta membuka hati untuk menerima kasih yang memulihkan.
Dalam kesempatan tersebut, gereja juga mengumumkan rangkaian kegiatan Paskah, termasuk pelayanan Perjamuan Kudus ke rumah (Easter Carol) pada Sabtu, 4 April 2026 bagi jemaat yang membutuhkan. Selain itu, Kebaktian Paskah I akan dilaksanakan pada Minggu, 5 April 2026 dalam lima sesi ibadah, mulai pukul 05.00 WIB hingga 18.00 WIB, dengan penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Batak guna menjangkau seluruh lapisan jemaat.
Sementara itu, khotbah yang disampaikan Pdt. Valentina Hutasoit, S.Th, yang diambil dari Injil Matius 27:45–56, menegaskan pengakuan iman “Sungguh, Yesus adalah Anak Allah” sebagai inti perenungan. Pesan tersebut menekankan bahwa salib bukanlah tanda kekalahan, melainkan bukti kasih Allah yang menebus dosa manusia, sekaligus panggilan bagi jemaat untuk hidup dalam iman, kasih, dan ketaatan di tengah berbagai krisis kehidupan. (red-win)