Samosir dan Inalum Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla.
SAMOSIR || MTUNews.com – Pemerintah Kabupaten Samosir mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Tahap II di wilayah Sungai Toba Asahan dan Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi kekeringan sekaligus menjaga ketersediaan air dan elevasi Danau Toba.
OMC Tahap II resmi dimulai pada Senin (21/9/2026) dari Terminal II BMKG Silangit. Operasi ini melibatkan BMKG, Perum Jasa Tirta I (PJT I), PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), serta sejumlah pemangku kepentingan di kawasan Danau Toba.
Operasi dijadwalkan berlangsung selama 25 hari, 21 September–15 Oktober 2026, dengan sasaran wilayah perairan dan DTA Danau Toba. Pelaksanaannya diarahkan untuk mengoptimalkan potensi hujan guna memperkuat ketersediaan air bagi masyarakat, pertanian, energi, dan aktivitas ekonomi di kawasan Toba.

VP Regional II PJT I M. Luckmanul Chakim mengatakan OMC merupakan salah satu upaya menghadapi potensi kekeringan yang dipengaruhi fenomena El Nino. Menurutnya, menjaga ketersediaan air berkaitan erat dengan ketahanan pangan dan energi.
“Tujuan dari OMC ini adalah mendukung ketahanan air dan ketahanan pangan, dan tidak lupa mendukung ketahanan energi,” ujarnya.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan pelaksanaan OMC dilakukan berdasarkan prediksi iklim dan cuaca BMKG. Operasi sebelumnya pada April 2026, kata dia, telah memberikan tambahan air yang cukup signifikan.
Untuk tahap kedua, BMKG kembali mengoptimalkan potensi pertumbuhan awan yang dapat disemai sesuai perkembangan kondisi atmosfer di lapangan. Budi juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah, dalam menyampaikan informasi kondisi kekeringan sebagai bahan pertimbangan penentuan prioritas operasi.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Samosir Sarimpol Simanihuruk menyambut baik pelaksanaan OMC tersebut sebagai bagian dari mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan di kawasan Danau Toba.
“BPBD Samosir siap mendukung koordinasi dan penyampaian informasi kondisi di lapangan, sehingga langkah-langkah mitigasi dapat dilakukan secara lebih cepat dan terpadu,” katanya.
Direktur Operasional PJT I Milfan Rantawi mengatakan OMC menyasar DTA dan perairan Danau Toba dengan tujuan mengoptimalkan potensi hujan sekaligus menjaga ketersediaan air dan elevasi Danau Toba pada kisaran 902,04 meter.
Sementara itu, INALUM menilai ketersediaan air sangat penting bagi kebutuhan masyarakat, pertanian, produksi, dan energi. Karena itu, OMC dipandang sebagai upaya bersama untuk mengoptimalkan potensi hujan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan ekosistem Danau Toba.

Pelaksanaan OMC Tahap II menjadi bagian dari sinergi pemerintah daerah, BMKG, PJT I, INALUM, BPBD, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat ketahanan air di kawasan Danau Toba. Bagi Pemkab Samosir, langkah tersebut dinilai penting karena wilayahnya berada langsung di kawasan Danau Toba yang memiliki keterkaitan erat dengan keberlanjutan ekosistem dan pemanfaatan sumber daya air. (red-tim/ags)
#MTU1News #Samosir #Inalum #Karhutla #MPA #MasyarakatPeduliApi #CegahKarhutla #MitigasiKarhutla #BPBDSamosir #DanauToba #Kesiapsiagaan #Lingkungan #ManggalaAgni #Harian #SianjurMulaMula








