Di Hari Jadi ke 43, Walhi Sumut: Pemerintah Tidak Serius Menangani Persoalan Tenurial dan Perusakan Lingkungan.
Medan – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Utara (Sumut) dihari jadi Walhi ke 43 pada 15 Oktober 2023, merlease, berbagai persoalan belum diselesaikan secara serius oleh Pemerintah. Baik persolan tenurial antara korporasi modal dengan rakyat, maupun persoaan perusakan lingkungan yang terjadi di Sumut.
Dalam catatan Walhi sumut, untuk kasus Tenurial seperti kasus Kelompok Tani Torang Jaya Mandiri (KTTJM) yang bekonflik dengan 2 perusahaan besar yaitu PT Sumatera Riang Lestari (PT SRL) dan PT. Sumatera Sylva Lestari (PT SSL) di Padang Lawas, pesoalan sudah puluhan Tahun belum jelas bentuk penyelesainnya.
Walhi Sumut mencatat, tidak ada penindakan serius oleh penegak hukum atas Maraknya industri arang yang berbahan baku kayu mangrove di Lankat, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, dan berbagai tempat di Sumut memperparah kerusakan linkungan ekosistem pesisir.
Terendamnya lahan 11 ribu hektar dengan kedalaman 0,5 hingga 1,5 meter 4 Desa selama 8 tahun di Kabupaten Asahan, yang diduga akibat pembangunan tanggul sepanjang lebih kurang 4 kilo meter oleh perusahaan pemegang HGU sawit, berdampak pada lebih kurang 15 ribu Kepala Keluarga. Sampai saat masih belum ada penyelesaian.
Rianda Purba Direktur Eksekutif Walhi Sumut kepada MTUNews Selasa (16/10/23) mengungkapkan, hadirnya Nort Sumatera Hydro Energy (NSHE) dan Agin Court Resources di dalam kawasan ekosistem Batang Toru membawa konflik agraria baik secara vertical maupun horizontal.
Direktur Walhi Sumut ini menambahkan, juga adanya perizinan didalam kawasan hutan untuk pengadaan konsensi lindung di sekitaran Tapanuli. Hal ini mengakibatkan berkurangnya habitat Orang Hutan Tapanuli yang taermasuk hewan yang dilindung, serta trampasnya hak-hak rakyat atas wilayah kelolanya.
“ akibat perizinan dikawasan lindung ini juga berakibat hancurnya ekosistem serta berkurangnya habitat Orang Hutan Tapanuli, dan hilangnya hak keola Rakyat.”papar Rianda.
Direktur Walhi Sumut yang baru 7 Bulan menjabat ini menambahkan, pada 11 Februari 2023 Kapal tanker MT AASHI berbendera Gabon yang berlayar dari Uni Emirate Arab bermuatan aspal + 1900 ton aspal/bitumen karam di perairan laut Desa Humane Sihene’asi, Kecamatan Tugala Oyo, Kabupaten Nias Utara, Sumut. Aspal yang terdapat didalam kapal tumpah dan menyebar di peraitran Nias Utara hingga ke perairan Nias Selatan. Sebaran aspal ini mengakibatkan terganggunya ekosistem laut di kawasan tersebut.
“akibat tumpahnya aspal, para nelayan secara perlahan mulai kehilangan wilayah tangkapnya. Tetapi juga belum ada penegakan hukum yang jelas atas kejadian tersebut” ungkap Rianda Purba. (Sgt)







