Mourinho: ‘Lukaku Orangnya Sensitif’
Roma – Romelu Lukaku menjadi pahlawan kemenangan AS Roma saat menjamu US Lecce, Senin (6/11). Meski gagal mengeksekusi penalti di menit ke-5, Lukaku membalas kegagalannya tersebut pada waktu tambahan sehingga membawa timnya memastikan kemenangan 2-1.
Laga pekan ke- 11 memang menjadi malam yang luar biasa di Stadio Olimpico, ketika penalti Lukaku berhasil diselamatkan oleh Wladimiro Falcone di menit-menit awal, kemudian Pontus Almqvist memberi Lecce keunggulan mengejutkan melalui serangan balik.
Tertinggal 0-1 hingga 90 menit waktu normal, pertandingan nampaknya kembali akan berakhir dengan kekecewaan bagi Giallorossi, namun tuan rumah secara dramatis mencetak dua gol di menit-menit akhir tambahan waktu melalui Sardar Azmoun dan Lukaku yang membalikkan keadaan untuk meraih kemenangan 2-1.

“Saya ingin berbicara dengan para pemain, karena pertandingan belum usai, tim tidak seimbang. Kami kembali ke filosofi lama, jika Anda kalah 1-0 atau 10-0 tidak ada bedanya,” kata Mou kepada DAZN.
“Kami menyelesaikannya dengan lima striker di lapangan dan Belotti bermain sebagai bek sayap kanan. Para pemain tampil luar biasa, para pendukung juga luar biasa, karena biasanya sebuah tim yang kalah di menit-menit akhir di kandang sendiri tidak menjamin tingkat gairah dari penonton.”
“Babak pertama bisa saja menjadi milik kami, andai (penalti) tidak bisa dihentikan, tetapi mereka menunjukkan semangat untuk melawan dan merespons situasi ini. Saya bilang Lecce terorganisir dengan baik dengan striker super cepat dalam serangan balik, mereka mengonfirmasi hal itu. Saya merasa kasihan pada mereka, karena mereka bermain luar biasa. Saya juga merasa kasihan pada Falcone, yang merupakan penggemar berat Roma, tapi setiap kali dia menghadapi kami, dia menyelamatkan segalanya,” tambah Mourinho.
Lukaku sendiri belum pernah gagal mengeksekusi penalti sebelumnya di Serie A Italia, penyerang Belgia itu telah mengonversi 14 gol lewat 14 penalti, namun kali ini digagalkan oleh Falcone di menit-menit awal.

“Ini adalah kegagalan pertamanya di Italia, tapi yang kedua bersama saya, seingat saya di Piala Super Eropa bersama Chelsea. Namun, hanya siapa pun yang mengambil penalti yang dapat mengambil risiko melewatkannya. Dybala merasa belum siap untuk melakukan permainan bola mati dan kami sangat percaya pada Romelu,” jelas sang pelatih.
“Saya mengenalnya lebih baik dari siapa pun, Lukaku adalah pria yang sangat, sangat sensitif secara emosional dan ketika dia gagal mengeksekusi penalti di awal pertandingan, itu menyakiti hatinya sepanjang sisa pertandingan. Inilah sebabnya mengapa mencetak gol kemenangan di menit-menit terakhir adalah hal yang sangat baik, karena itu akan membantu Romelu tidur lebih nyenyak malam ini dan bangun dengan senyuman,”ucap pelatih asal Portugal itu.
Comeback ini menjadi ciri khas Mourinho, karena tim Serie A asuhannya telah mencetak 26 gol setelah menit ke-90, hanya kebobolan tiga kali dalam periode yang sama.
“Saya menggambarkannya memiliki hati, mentalitas, dan hubungan dengan para penggemar. Saya telah melatih enam atau tujuh klub, saya tidak ingat pernah berada dalam situasi di mana para penggemar terus mendorong Anda ketika kalah di kandang. (football-italia/GHP)












