MTU News
Beranda Ekonomi & Bisnis Selasa ini Rupiah Menguat 59 Poin terhadap Dollar AS

Selasa ini Rupiah Menguat 59 Poin terhadap Dollar AS

Ilustrasi / investmentnews

Jakarta – Dolar melanjutkan penurunannya, dengan ukuran kekuatan greenback mencapai level terendah sejak Agustus tahun ini, di tengah spekulasi bahwa Federal Reserve (Bank Sentral AS) mendekati akhir siklus kenaikan suku bunganya. Para investor sedang menunggu publikasi risalah pertemuan suku bunga Fed terakhir pada hari Selasa untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut mengenai pemikiran para pembuat kebijakan.

Kondisi tersebut membuat nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (21/11) pagi WIB menguat sebesar 0,38 persen atau 59 poin menjadi Rp15.386 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.445 per dolar AS.

Semakin perkasanya rupiah terhadap US$ per hari ini sudah diprediksi oleh beberapa pengamat, antara lain surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2023 sebesar 3,48 miliar dolar AS  memberikan sentimen positif terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Selain itu, menurut data yang dihimpun Xinhua, indeks dolar, yang mengukur greenback (uang kertas dollar) terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,46 persen menjadi 103,43.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia berada dalam kondisi surplus selama 42 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Surplus perdagangan Oktober 2023 tercatat naik 0,07 miliar dolar AS dibandingkan capaian pada September 2023 (month to month/mtm), namun turun 2,12 miliar dolar AS dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun 2022 (year on year/yoy).

Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra berpendapat bahwa menguatnya Rupiah karena dipengaruhi faktor eksternal dari laju inflasi AS Oktober 2023 yang melambat, yakni 0 persen dengan perkiraan sebelumnya 0,1 persen secara  month to month (MoM), dan year on year  (YoY) 3,2 persen dengan ekspektasi 3,3 persen. Adapun data klaim pengangguran Amerika Serikat (AS) meningkat 13 ribu menjadi 231 ribu dari perkiraan 220 ribu.

“Dengan angka inflasi yang lebih rendah dari sebelumnya, ini memperbesar ekspektasi peluang pemangkasan suku bunga acuan AS lebih cepat. Indeks dolar AS terlihat bergerak di kisaran 103,80 pagi ini setelah pekan lalu bergerak di atas 104,” jelas Ariston.

“Di sisi lain, sebagian petinggi Bank Sentral AS yang memberikan pernyataan soal kebijakan moneter AS pekan lalu, mengungkapkan ketidakyakinannya bahwa inflasi bakal turun cepat ke target 2 persen, sehingga AS masih memerlukan kebijakan suku bunga tinggi saat ini,” ungkapnya.

Hingga saat ini, tidak ada data AS yang penting. Pasar menunggu rilis notulen rapat Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (22/11) dinihari untuk mencari petunjuk soal kebijakan suku bunga tinggi The Fed ke depan. (Antara/GHP)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan