MTU News
Beranda Daerah Pemprov Riau Jajaki Kerjasama Bidang EBT dengan Jepang

Pemprov Riau Jajaki Kerjasama Bidang EBT dengan Jepang

Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Riau, M. Job Kurniawan saat menerima kunjungan Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Medan , Takonai Susumu di Kantor Gubernur Riau / Antara

Pekanbaru – Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dimiliki indonesia diproyeksikan mencapai 3.687 gigawatt (GW) sehingga harus dioptimalkan dalam menghasilkan energi bersih bagi seluruh masyarakat. Selain melaksanakan dekarbonisasi pemerintah juga punya target yakni membawa negeri ini menuju Indonesia Net Zero Emissions pada 2060.

Potensi tersebut kini dicoba jajaki oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau lewat kerja sama dengan Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Medan, dimana daerah ini memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi di bidang energi terbarukan.

“Kerja sama dibutuhkan karena Pemerintah Jepang dan perusahaan-perusahaan Jepang membutuhkan energi terbarukan ini,” kata Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Medan, Takonai Susumu dalam kunjungan kerjanya di Pekanbaru, Jum’at (24/11).

Takonai berharap dengan potensi energi terbarukan yang dimiliki Provinsi Riau ini, akan semakin banyak perusahaan Jepang yang akan berinvestasi di Riau dan kerja sama ekonomi antar kedua negara akan semakin baik.

Takonai Susumu menjelaskanm renewable energy (RE) atau energi baru terbarukan adalah sumber energi yang berasal dari sumber alam. RE dapat diperbarui dengan kecepatan yang lebih tinggi dari tingkat konsumsinya. Contohnya adalah sinar matahari, angin, air, panas bumi, dan lain-lain.

Pemerintah Jepang sendiri terus fokus pada upaya percepatan pengembangan energi terbarukan untuk mengisi kekosongan akibat bencana pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima. Namun program tersebut menghadapi beberapa tantangan seperti kepemilikan jaringan listrik dan ketersediaan lahan.

Dalam sixth strategic energy plan, beberapa tahun lalu Jepang telah menaikkan target pembangkit listrik energi terbarukan termasuk tenaga air dari sebelumnya 22-24 persen menjadi 36-38 persen pada tahun 2030. Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) memegang porsi cukup besar dibandingkan energi lain seperti angin, air, biomasa.

“Harapan saya semakin banyak perusahaan Jepang masuk ke Provinsi Riau sehingga hubungan Jepang-Riau bisa lebih ditingkatkan kedepan,” katanya.

Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Riau, M. Job Kurniawan mengapresiasi rencana tersebut apalagi dengan dianugerahi sumber daya alam yang melimpah, pertumbuhan ekonomi yang kian meningkat dan ditambah dengan letak geografis Riau yang strategis, karena itu Riau menjadi pilihan yang tepat sebagai daerah untuk berinvestasi.

Pemerintah Provinsi Riau sendiri telah memasang solar panel pada tahun 2021 dengan memanfaatkan panas matahari untuk dijadikan sebagai kebutuhan listrik di perkantoran.

Selain itu, Provinsi Riau telah memiliki tiga tiga pembangkit tenaga biogas (PTBg) milik anak perusahaan Holding Perkebunan Nusantara III (Persero), PT Perkebunan Nusantara V (PTPN V) yang memanfaatkan gas metana dari limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME).

“Kami sudah sampaikan potensi Riau dengan harapan menjadi peluang untuk bisa ditindak lanjut dengan kerja sama tersebut semoga bisa membuka investasi di Riau,” demikian Job Kurniawan.

Renewable energy juga berperan sebagai kontributor mitigasi perubahan iklim global. Oleh karena itu, pemanfaatn renewable energy (RE) menjadi pilihan terdepan bagi kondisi Indonesia. (Antara/GHP)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan