Nokia Lepas Saham Mayoritasnya di TD Tech
Shanghai – Perusahaan telekomunikasi Finlandia, Nokia, akhirnya melepas saham mayoritas yang mereka miliki pada perusahaan patungan bersama Huawei Technologies, TD Tech, setelah kesepakatan penjualan yang diusulkan itu gagal pada tahun lalu menyusul protes keras dari mitra Tiongkok tersebut.
Berdasarkan perjanjian terbaru, perusahaan teknologi nirkabel TD Tech akan dikendalikan bersama oleh Huawei dan sekelompok entitas yang mencakup Chengdu High-Tech Investment Group milik pemerintah dan Chengdu Gaoxin Jicui Technology Co, serta perusahaan modal ventura Huagai, demikian informasi yang diterbitkan pada hari Jumat oleh Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar (SAMR).
Dokumen tersebut tidak mengungkapkan berapa banyak ekuitas yang akan dimiliki masing-masing pemilik baru. Sebelum penjualan, Nokia memiliki 51 persen saham TD Tech, sementara Huawei memegang 49 persen saham.

Regulator mengatakan mereka tidak memiliki kekhawatiran antimonopoli terhadap kesepakatan tersebut dan akan meminta masukan dari masyarakat hingga tanggal 28 Januari mendatang. Huawei dan TD Tech bersama-sama mengendalikan tidak lebih dari 10 persen pasar ponsel pintar Tiongkok, menurut SAMR, yang tidak menentukan jangka waktu untuk hal tersebut.
Huawei menguasai 14 persen pangsa pasar ponsel pintar Tiongkok pada kuartal ketiga tahun lalu, menempatkannya di peringkat kelima di belakang perusahaan spin-off mereka, ‘Honor’ dan pesaingnya, Oppo, Vivo, dan Apple, demikian menurut data dari Counterpoint Research.
TD Tech, didirikan pada tahun 2005, merupakan perusahaan patungan antara Huawei dan konglomerat teknologi Jerman Siemens hingga tahun 2007, ketika Siemens menjual setengah sahamnya ke Nokia. Pada tahun 2013, Siemens melepas seluruh sahamnya, menjadikan Nokia sebagai pemegang saham utama.
Dikenal sebagai penyedia peralatan komunikasi nirkabel, termasuk peralatan jaringan 4G dan 5G, TD Tech hadir di lebih dari 100 negara dan melayani 8 juta pelanggan industri, demikian menurut situs web perusahaan tersebut.

Menurut pengamat industri, Yang Guang, di unit bisnis itu Nokia memang pemilik mayoritas usaha patungan tersebut, namun Huawei telah menjadi pengendali de facto, .
“Manajemennya adalah mantan karyawan Huawei, dengan solusi produk berdasarkan produk Huawei tetapi disesuaikan untuk pasar industri,” seru Yang Guang, seorang analis yang meliput sektor telekomunikasi di firma riset Omdia.
Ketika Nokia tahun lalu mencoba menjual saham mayoritasnya kepada perusahaan pembuat tinta ,New East New Materials yang terdaftar di Shanghai, Huawei mengancam akan menghentikan lisensi teknologinya kepada TD Tech. Kesepakatan itu akhirnya gagal.
Huawei kemungkinan besar tidak ingin kehilangan kendali atas TD Tech, karena dapat membantu raksasa teknologi Tiongkok tersebut menghindari beberapa sanksi AS dan membantunya menangani segmen pasar tertentu dengan lebih efisien, kata Yang pada saat itu.

TD Tech pada tahun 2021 mulai menjual ponsel Huawei yang diganti mereknya dengan mereknya sendiri. Termasuk M40 5G, yang menggunakan chip 7 nanometer dari MediaTek yang berbasis di Taiwan, bukan prosesor Kirin milik Huawei.
Sanksi yang diberlakukan oleh Washington saat ini melarang perusahaan menjual chip canggih yang dibuat dengan teknologi asal Amerika kepada Huawei, termasuk prosesor MediaTek yang dibuat oleh Huawei Taiwan Semikonduktor Manufaktur Co, pembuat chip kontrak terbesar di dunia.
Meskipun ada pembatasan di AS, Huawei diluncurkan tahun laluitu Mate 60 Pro, ponsel yang dilengkapi dengan prosesor 5G buatan dalam negeri yang canggih. (SCMP/tje)













