S.Dis, Lagu Gubahannya Nyaris Menjadi Lagu Kebangsaan RI (Bagian I)
Sebagian besar orang Batak yang menyukai musik dan lagu Batak pastinya sudah pernah mendengar lagu gubahan komponis Guru Siddik Sitompul yang lebih dikenal dengan panggilan S.Dis.
Lagu Butet, A Sing Sing So, Anju Au, Na Sonang do Hita Na Dua, Borhat ma Dainang, Anju Au Ale Anggi adalah sebagian kecil lagu ciptaannya yang sangat terkenal di kalangan orang Batak, nasional bahkan di mancanegara. Meski lagu-lagu tersebut tercipta sudah cukup lama namun hingga kini masih cukup dikenal dan familiar di tengah masyarakat.

S.Dis yang lahir 10 Desember 1904 ini ternyata adalah pengarang lagu yang unik. Menurut putri bungsu S.Dis, Junita Sitompul (Ita) dan Rumata Sitompul anak ke 10 kepada mtunews.com salah satu keunikan bapaknya meski piawai menggubah lagu tapi S.Dis sangat jarang menyanyi.

“Saat mengarang lagu termasuk menulis notasi lagu bapak hanya mengeluarkan suara seperti menggumam atau kadang bersiul,” jelas Ita Sitompul. Dia menambahkan bahwa S.Dis memang tipe orang yang tidak banyak omong dan cenderung pendiam.
Perasaan, kata hati , true story dan unek-unek yang dialami dalam perjalanan hidupnya termasuk imajinasinya tentang sesuatu banyak ditumpahkan dalam lagu gubahannya. Tidak heran sebagian besar lagu terkenal yang diciptakannya merupakan curahan hati S.Dis atau pengalaman nyatanya.
Misalnya lagu “A Sing Sing So” ,pasti banyak pendengar yang tidak tahu apa itu arti “A Sing Sing So”. A Sing Sing So itu sebenarnya menurut cerita S.Dis kepada anak-anaknya adalah suara tiupan angin . Ketika itu, S.Dis dari Pahae mau ke Tarutung untuk menjumpai kekasih hati yaitu boru Hutabarat (kemudian menjadi istri S.Dis) sambil menuntun kerbau. Perjalanan jauh dan berjalan kaki tentu membutuhkan waktu lama untuk tiba di Tarutung. Sementara rindu dendam terhadap kekasih sudah kesumat.
Desiran angin di perjalanan pun diterjemahkan dengan A Sing Sing So .”Weee…lugahon au da parau…ullushon au da alogo…tu huta ni da tulang i….. ”

Sementara itu S.Dis juga pernah ikut sayembara mengarang lagu kebangsaan menjelang proklamasi kemerdekaan RI. Lagu yang dia ikutkan perlombaan berjudul “O Indonesia ” . Pemenangnya waktu itu adalah “Indonesia Raya” gubahan Wage Rudolf Soepratman, lagu yang sudah pernah diperdengarkan pada waktu Sidang ke II Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.Lagu “O Indonesiaku” lagu gubahan S.Dis berada di posisi ke dua.
Karena tidak berhasil menjuarai lomba tersebut, S.Dis merubah syair lagu “O Indonesia” dengan bahasa Batak dan jadilah lagu “Luat Pahae” yang tersohor itu.
Cerita unik lainnya adalah lagu “Borhat ma dainang” , lagu yang hingga kini nyaris selalu dinyanyikan dalam pesta pernikahan Batak. Lagu ini diciptakan untuk putrinya nomor 8 (anak S.Dis 11 orang) yang menikah dengan marga Tambunan. Ketika giliran diminta menyampaikan sambutan kepada pengantin, S.Dis hanya mengatakan bahwa ia tidak pandai berbicara.
“Lagu yang saya gubah ini merupakan sambutan saya untuk pernikahanmu ini inang,” ujar S.Dis seperti ditirukan putrinya Ita Sitompul. Dan lagu itupun berkumandang pertama kalinya di depan umum dinyanyikan keluarga Sitompul dan Hutabarat di pesta pernikahan putri S.Dis.

Ada lagi cerita menarik dari komponis besar ini seperti yang disampaikan Rumata Sitompul putrinya nomor 10 ini. “Bapak kalau lagi dapat ide menulis lagu akan langsung menuliskannya. Bila perlu tembok rumah akan dicoret-coret lalu kemudian dipindahkan lagi ke kertas,” kenang Rumata.Masih banyak lagu ciptaan komponis yang juga sebagai guru zending (huria) di zamannya ini diilhami dari kejadian nyata dan responnya terhadap kejadian yang dialaminya, seperti lagu Anju Au Ale Anggi, Butet, Aek Sarulla. Ingin tahu cerita di balik lagu-lagu tersebut ? nantikan lanjutan tulisan ini.
Podcast “Ruang Bicara” juga akan menyiarkan video penggalan kisah perjalanan hidup sang komponis besar S.Dis (Siddik Sitompul) dengan narasumber dua putrinya Junita Sitompul dan Rumata Sitompul dengan host Vanda Hutagalung Golden Memories di kanal “Ruang Bicara” mtunews.com . (Bersambung)














