S.Dis Komponis Jenius yang Jarang Menyanyi (bagian 2)
Pencipta lagu layaknya seniman-seniman kebanyakan memiliki keunikan dan ciri masing-masing dalam merefleksikan karya seninya. Guru Siddik Sitompul (S.Dis) juga memiliki keunikan dalam lagu-lagu karya ciptanya.
Sebagian besar lirik lagu gubahannya merupakan peristiwa yang dialaminya atau kisah hidup orang lain yang hubungan sosialnya dekat dengan S.Dis. Demikian juga dengan caranya mengagumi alam,imajinasinya tentang alam itu akan dituangkan dalam lagu saat S.Dis berada dekat dengan alam tersebut.
Sebut saja lagu “Aek Sarulla” . Menurut putri bungsunya Ita Sitompul, lagu ini tercipta pada saat S.Dis memancing ikan disebuah sungai kecil (yang pasti bukan di sungai/aek Sarulla). Setelah sekian lama memancing dan belum mendapatkan juga S.Dis akhirny mengambil pulpen dan kertas yang sering dia bawa kemana-mana.

Lalu mulailah kertas putih ditangannya diisi dengan lirik dan not lagu sambil berimajinasi seakan berbicara dengan aek(sungai) Sarulla. Setelah di rumah lirik dan notasi disempurnakan diiringi okulele atau piano. Maka terciptalah lagu “Aek Sarulla”.
S.Dis dalam mengarang lagu selalu menggunakan not angka dan semua lagu-lagu terkenal (notasi dan lirik) yang digubahnya dibuat dengan tulisan tangan sendiri yang sebagian besar masih disimpan rapi oleh ahli waris karya S.Dis.
Lagu gubahan S.Dis yang tak kalah terkenal adalah “Na Sonang Do Hita Nadua”. Lagu romantis yang sering dibawakan secara duet ini bercerita tentang kebersamaan sepasang kekasih. Lagu ini ternyata diciptakan S.Dis khusus buat istrinyanya tercinta boru Hutabarat.
Mungkin banyak orang menduga bahwa sebutan S.Dis untuk guru Siddik Sitompul berasal dari akronim/singkatan nama dan marganya. Sebetulnya S.Dis itu berasal dari nama tangga nada Es=Dis (tangga nada Es itu sama dengan tangga nada Dis). Tangga nada Es Ditulis S ,lalu panggilannya menjadi S.Dis. Konon S.Dis sangat suka menggunakan tangga nada Es atau Dis sebagai nada dasar lagu-lagu gubahannya. Sedangkatan sebutan “guru” (guru Siddik Sitompul) adalah karena S.Dis merupakan guru zending atau guru huria di gereja.


Menurut Ita Sitompul lagu-lagu yang diciptakan bapaknya berjumlah sekitar 120 lagu dan yang paling terkenal ditengah masyarakat sekitar 45 lagu. Diantaranya Butet, O Tano Batak (notasinya dari lagu “O Indonesia” yang diikutkan untuk sayembara lagu kebangsaan tahun 1945), Borhat ma Dainang, Anju Au Ale Anggi, Luat Pahae dan lainnya.
Sebagian lagu-lagu S.Dis termasuk kategori easy listening dengan paduan nada-nada pentatonik serta kaya harmoni dengan berbagai irama. Meski nada-nada berirama slow pop mendominasi karya S.Dis tetapi beberapa lagu berirama jazz seperti “Leleng (Sai hupaima-ima)” , “O Doli” “Manigati Lungun”. “Dung Sirang Pe Au Sian Ho” juga akrab ditelinga para pecinta lagu Batak.
Sedangkan gubahannya ber-genre pop seperti “Molo Margitar Au Ito”, “Borhat ma Dainang” “Boasa ia Dung Botari”,”Dung Ditonga Borngin”, “Anju Au” hingga kini masih sangat dikenal ditengah masyarakat kita.
Suami Louisa boru Hutabarat ini menurut keterangan putrinya Ita Sitompul termasuk orang yang tidak banyak bicara. Kisah dan perasaannya dalam perjalanan hidup banyak dia ceritakan dan ungkapkan dalam lagu-lagu ciptaannya. Sebut saja lagu “Borhat ma Dainang” yang digubah untuk putrinya yang menikah dengan marga Tambunan. Lagu ” Anju Au’ untuk adiknya laki-laki. “Di Rondang ni Bulan i” cerita tentang adiknya perempuan/ibotonya, “Loja Mandiori’ tentang anaknya laki=laki.

Lagu-lagu ini sebetulnya merupakan ungkapan hatinya tentang dinamika relasi yang dialaminya dalam keluarga. Pria kelahiran 10 Desember 1904 ini selain mencipta lagu juga bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan asuransi.
Pemerintah Indonesia dibawah kepemimpinan presiden Soeharto telah memberikan penghargaan kepada S.Dis untuk 2 (dua) lagu perjuangan yang digubahnya, “Butet” dan “10 November Taon 45”. Jika lagu pertama menggambarkan lokasi perjuangan di Tapanuli sekitarnya maka lagu kedua adalah tentang suasana perang di kota Surabaya.
Sementara itu Pemda Kabupaten Tapanuli Utara juga memberikan penghargaan kepada S.Dis dengan mengabadikan nama Siddik Sitompul sebagai nama salah satu ruas jalan di Tarutung demikian juga di kampung halamannya di Pahae Julu Tapanuli Utara. Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan juga meresmikan Monumen peringatan bagi Siddik Sitompul yang dinamakan Monumen Sing Sing So di Pahae Julu, Tapanuli Utara.
Siddik Sitompul (S.Dis) telah meninggalkan warisan karya seni berupa lagu-lagu yang sangat terkenal dikalangan orang Batak, secara nasional bahkan sudah mendunia. Pencipta lagu jenius namun konon jarang terdengar menyanyi ini telah memberikan karyanya yang masih bisa dinikmati hingga kini. Namun ada hal yang selalu mengganjal di hati Junita (Ita) Sitompul ahli waris karya-karya S.Dis.

“Masih ada pihak-pihak yang menyanyikan dan meng-klaim beberapa lagu bapak S.Dis sebagai ciptaan orang lain atau ditulis NN (no name) bahkan merekamnya secara komersil tanpa ijin kami,”ujar Ita Sitompul gusar. Dia menambahkan bahwa saat ini tengah membereskan hak cipta lagu-lagu bapaknya ke lembaga-lembaga terkait agar kelak karyacipta bapaknya tetap terjaga kelestariannya secara legal.
Ita Sitompul berharap agar pihak-pihak yang menggunakan karya-karya bapaknya punya itikad baik, misalnya minta izin dan menghubungi mereka. “Paling tidak mancantumkan nama bapaklah sebagi pencipta lagunya,” tegas Ita Sitompul.
Selain itu ahli waris karya cipta S.Dis ini juga punya harapan dan permintaan kepada instansi/lembaga yang terkait dengan hak cipta/hak intelektual serta kepada pemerintah Indonesia . Apa harapan dan permintaan khusus ahli waris karya S.Dis ini ? Silakan ikuti di tulisan episode terakhir mengenai komponis besar S.Dis ini.



















