Guru Besar UI: Angka “Unmet Need” Jadi Tantangan Program KB
MTUNews – Program Keluarga Berencana (KB) di tanah air merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk serta membentuk keluarga yang berkualitas. Program untuk mengendalikan angka kelahiran penduduk yang dimulai di Indonesia akhir Desember 1957 tersebut masih menjadi prioritas pemerintah hingga saat ini meski dalam perkembangannya tetap ada tantangan untuk penyelarasannya.
Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Budi Utomo mengatakan tingginya angka unmet need menjadi tantangan bagi program keluarga berencana (KB) karena berpengaruh pada angka kehamilan yang tidak diinginkan.
Budi menjelaskan unmet need ialah suatu kondisi ketika perempuan usia subur (PUS) membutuhkan program KB, namun tidak mau memakai alat KB karena beberapa alasan, mulai dari alasan kesehatan, ketidakcocokan, hingga tidak didukung oleh suami dan keluarga. Dengan kata lain, kebutuhan KB tidak terpenuhi.

Karena beberapa alasan tersebut, persentase kebutuhan KB yang tidak terpenuhi atau unmet need di Indonesia masih di angka 10 persen, itu tidak turun dari tahun 2000 sampai sekarang,” katanya dalam lokakarya “Strategi Penurunan Strategi Penurunan Unmet Need dan Peningkatan KB Pascapersalinan (KBPP) Tahun 2023″ di Jakarta, Rabu.
Menurut Budi kondisi tersebut turut mempengaruhi keberhasilan program KB serta meningkatkan peluang terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan atau tidak direncanakan.
Dikutip dari Antara, ketika unmet need terjadi perempuan usia subur cenderung menggunakan cara-cara pencegahan kehamilan yang sifatnya alami dan harus dilakukan berulang kali.
“Sehingga ada kemungkinan mereka akan berhenti menggunakan atau melakukan drop out yang berakibat terjadinya kehamilan tidak diinginkan,” ujarnya.

Budi menyebutkan 30 persen perempuan yang berhenti menggunakan alat KB setelah setahun cenderung tidak dapat mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, entah nantinya kehamilan tersebut dipertahankan atau digugurkan.
Kehamilan yang tidak diinginkan tersebut nantinya berujung pada masalah yang lebih besar, seperti stunting hingga tingginya pertumbuhan jumlah penduduk.
Berkaitan dengan stunting, kehamilan yang tidak direncanakan kerap kali melahirkan anak dengan jarak kelahiran yang berdekatan sehingga membuat pola pengasuhan, pemberian gizi, hingga pemberian kasih sayang kepada anak menjadi tidak optimal. (*/GHP)











