Diperkirakan ‘Volatile’, IHSG Hari ini dibuka Menguat 58,70 Poin
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (14/12) pagi dibuka menguat 58,70 poin atau 0,83 persen ke posisi 7.134,04. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 12,76 poin atau 1,37 persen ke posisi 945,67.
Masih dalam suasana pasca debat perdana pasangan calon presiden dan calon wakil presiden IHSG diperkirakan akan ‘volatile’ (berfluktuatif) dikarenakan situasi politik di Tanah Air yang akan mempengaruhi sentimen pasar.
Volatility mrrupakan ukuran statistik harga sekuritas dalam periode waktu tertentu. Pada umumnya, harga tersebut mengalami naik turun secara cepat. Saat volatility rendah, maka kondisi pasar uang sedang dalam keadaan stabil, baik penjual maupun pembeli tidak mendominasi perdagangan.

Sehari sebelumnya, Rabu (13/12) IHSG ditutup melemah 49,97 poin atau 0,70 persen ke posisi 7.075,34. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 8,61 poin atau 0,92 persen ke posisi 932,90. Hal tersebut disebabkan karena pasar sedang mencermati kebijakan yang akan diambil The Fed.
Bursa regional Asia cenderung melemah yang tampaknya dipengaruhi sikap pelaku pasar cenderung kehati-hatian mendominasi sentimen menjelang keputusan akhir kebijakan The Fed.
Namun usai Federal Reserve mengisyaratkan bahwa trend kenaikan suku bunganya telah berakhir dan adanya harapan pemotongan suku bunga di tahun 2024, Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup di level rekor tertinggi sejak Januari 2022. Sementara S&P 500 dan Nasdaq menguat masing-masing lebih dari 1% pada perdagangan hari Rabu kemarin.
Satu hal yang mungkin mempengaruhi pasar adalah ketika The Fed mempertahankan suku bunga sesuai perkiraan di level 5.25% – 5.50%.

17 dari 19 pejabat The Fed dengan suara bulat memproyeksikan bahwa suku bunga akan lebih rendah pada akhir 2024. Hal ini sontak membuat saham-saham melonjak tajam apalagi setelah Federal Reserve Chairman Jerome Powell mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa The Fed sepertinya sudah tak perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut, dan bahwa The Fed “sangat berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan dengan mempertahankan suku bunga terlalu tinggi untuk waktu yang terlalu lama.”










