Rupiah Melemah, Kemenkeu Tetap Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Jakarta – Mata uang rupiah di akhir perdagangan Senin (18/12) kemarin melemah dipengaruhi sentimen arah kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS). pernyataan dari para pejabat The Fed mendorong dolar AS menguat terhadap mata uang utama, termasuk euro, sterling dan yen Jepang,
Beberapa pejabat Fed mengisyaratkan bahwa Bank Sentral AS atau The Fed belum mempertimbangkan penurunan suku bunga lebih awal pada 2024. Selain itu Presiden Fed Atlanta, Raphael Bostic, berpendapat bahwa ia hanya memperkirakan dua kali penurunan suku bunga pada 2024 yang akan terjadi mulai paruh kedua di 2024.
Sementara rupiah cenderung melemah setelah data neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Rupiah melemah sebesar 17 poin atau 0,11 persen menjadi Rp15.510 per dolar AS dari penutupan sebelumnya sebesar Rp15.493 per dolar AS.

Surplus neraca perdagangan turun menjadi 2,41 miliar dolar AS pada November 2023 dari 3,47 miliar dolar AS pada Oktober 2023 seiring dengan meningkatnya impor minyak karena kuatnya permintaan dalam negeri.
Meski demikian Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus USD2,41 miliar pada bulan November 2023. Kondisi surplus neraca perdagangan pada November 2023 menambah catatan surplus neraca perdagangan Indonesia menjadi 43 bulan berturut-turut. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia selama Januari hingga November 2023 mengalami surplus USD33,63 miliar.
Ekspor Indonesia pada bulan November 2023 tercatat USD22,00 miliar, menurun sebesar 0,67 persen dibandingkan bulan lalu (mtm) dan terkontraksi 8,56 persen dibandingkan bulan November 2022 (yoy). Sementara itu, secara kumulatif Januari hingga November, ekspor tercatat sebesar USD236,41 miliar. Meskipun demikian, jika dilihat secara volume, ekspor Indonesia pada bulan November masih tumbuh sebesar 6,5 persen (yoy) atau 7,2 persen (ytd) secara kumulatif.
Sementara impor Indonesia di bulan November 2023 tercatat sebesar USD19,59 miliar, naik 4,89 persen dibandingkan bulan lalu (mtm) atau 3,29 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Febrio menjelaskan peningkatan impor didorong oleh impor barang modal dan konsumsi yang tumbuh masing-masing sebesar 13,66 persen (yoy) dan 19,82 persen (yoy).

Dari data-data di atas peningkatan ekspor memang sangat dibutuhkan Indonesia karena perdagangan Internasional sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika suatu negara lebih banyak melakukan ekspor daripada impor maka pendapatan nasional negara tersebut akan meningkat sehingga nantinya berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu, pemerintah akan terus mewaspadai risiko global yang masih eskalatif ini dengan mengoptimalkan peran APBN untuk menyerap gejolak yang terjadi sehingga meminimalisasi dampaknya ke ekonomi nasional.
Beberapa bulan yang lalu, menyikapi kondisi ekonomi global dan dampaknya terhadap mata uang nasional, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa pemerintah telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menentukan kebikalan fiskal dan moneter serta menjaga pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah ketidakpastian kondisi perekonomian global. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2023 tetap tumbuh kuat sebesar 4,94% (yoy), meskipun sedikit melambat dari pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang sebesar 5,17% (yoy). (*pr/Antara/tje)












