Pengunjung di wihara yang dibangun pada 1650 tersebut tidak sebanyak saat perayaan Tahun Baru Imlek 2575 pada 10 Februari lalu.
“Saya tadi melakukan ibadah atau kebaktian untuk berterima kasih kepada dewa-dewa atas semua kebaikan dan karma baik yang telah diberikan,” ujar Evita (27), salah seorang pengunjung vihara, Kamis.
Evita menjelaskan bahwa perayaan Waisak mengandung tiga peristiwa penting, yakni kelahiran Buddha, pencapaian penerangan Buddha, dan wafatnya Buddha.
“Pada Hari Waisak ini, kita memperingati tiga kejadian penting tersebut dan berterima kasih atas semua hal baik dalam hidup kita,” tambahnya.
Ia juga membawa bunga-bungaan saat beribadah yang menurutnya merupakan tanda cinta kasih dan kehidupan yang harum.
“Bunga-bungaan melambangkan cinta kasih yang harum, semoga kita diberikan kehidupan yang mulus dan manis,” kata Evita.
Sementara itu, salah satu pengelola wihara, Aien, mengatakan bahwa tidak ada acara khusus yang dipersiapkan untuk perayaan Waisak kali ini.
“Kami tidak ada acara dan tidak ada persiapan khusus untuk perayaan Waisak,” ujar Aien.
Menurut Aien, Vihara Dharma Bhakti atau Kelenteng Petak Sembilan biasanya ramai hanya saat perayaan Ulambana pada Agustus 2024, yang khusus untuk ibadah menghormati leluhur.
“Tunggu Ulambana pada Agustus. Kalau itu nanti ramai. Wihara ini khusus untuk ritual penghormatan leluhur yang sudah meninggal. Jadi nanti Agustus ada ‘suhu’ (guru/master) yang membacakan doa-doa,” jelas Aien.
Di pintu depan wihara, terlihat sejumlah petugas gabungan bersiaga di posko keamanan, sementara sejumlah pengunjung beribadah dengan membakar hio dan menyalakan lilin.