Hasil hitung cepat (quick count) dari beberapa lembaga survei menunjukkan pasangan Luthfi-Taj Yasin unggul dengan perolehan suara signifikan. Charta Politika mencatat mereka meraih 58,44 persen suara, Indikator 58,31 persen, dan SMRC 59,16 persen, meninggalkan Andika-Hendrar dengan selisih lebih dari 15 persen.
Khoirul Umam menjelaskan bahwa karakter pemilih di Jawa Tengah, khususnya di wilayah pantura, yang mayoritas masyarakat santri, lebih mendukung representasi kandidat nasionalis-santri seperti Luthfi-Taj Yasin. Dukungan penuh dari jaringan Nahdlatul Ulama (NU) juga memberikan pengaruh besar. Sebaliknya, Andika-Hendrar sebagai pasangan nasionalis kesulitan menarik dukungan dari segmen santri yang dominan.
Selain itu, keterbatasan waktu sosialisasi dan lemahnya penetrasi PDIP ke segmen santri menjadi tantangan utama. “KIM yang didukung oleh political endorsement Jokowi dan Prabowo berhasil memanfaatkan rapuhnya kekuatan PDIP di Jawa Tengah, yang selama ini dikenal sebagai kandang banteng,” jelas Umam.
Ia juga menambahkan bahwa dominasi mesin politik KIM, yang menguasai sekitar 75 persen kekuatan koalisi, serta dukungan donor logistik yang kuat, menjadi faktor penentu kemenangan Luthfi-Taj Yasin. Menurut Umam, kombinasi strategi ini berhasil mengonsolidasikan simpul-simpul kekuatan politik di Jawa Tengah, memberikan pasangan nasionalis-santri ini keunggulan signifikan dalam Pilkada 2024. (Red.)