MTU News
Beranda Daerah Profil Dedi Mulyadi: Dari Tukang Ojek ke Gubernur Jabar

Profil Dedi Mulyadi: Dari Tukang Ojek ke Gubernur Jabar

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi saat turun ke sungai di wilayah Sukabumi

JAWA BARAT || MTUNews.com – Dedi Mulyadi resmi terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat setelah memenangkan kontestasi Pilgub Jabar 2024 dengan perolehan suara sebesar 62,22 persen atau 14.130.192 suara. Ia akan dilantik sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2025-2030 pada 20 Februari 2025. Perjalanan politiknya panjang, dimulai dari anggota DPRD Purwakarta, Wakil Bupati Purwakarta, Bupati Purwakarta selama dua periode, hingga menjadi anggota DPR RI sebelum akhirnya terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat.

Masa Kecil dan Latar Belakang Keluarga

Dedi Mulyadi lahir dari keluarga sederhana di Subang pada 11 April 1971. Sejak kecil, ia sudah merasakan pahitnya kehidupan. Ayahnya, Suryana, hanya bertahan di kemiliteran hingga usia 28 tahun karena mengalami sakit yang diduga akibat diracun oleh mata-mata Belanda. Setelah itu, ia bekerja di perkebunan, tetapi keluar karena menolak ikut serta dalam praktik penjualan pupuk ilegal.

Ibunya, Karsiti, kemudian mengambil alih peran pencari nafkah dengan bekerja sebagai buruh tani. Dedi kecil tumbuh dalam kondisi ekonomi yang sulit. Makanan sehari-hari sangat sederhana, bahkan ikan asin hanya bisa dinikmati pada awal bulan, sementara selebihnya ia hanya makan nasi dengan garam.

Bekerja Sejak Kecil untuk Bertahan Hidup

Sejak kecil, Dedi terbiasa bekerja keras. Untuk bisa membeli jajanan seperti es mambo, ia harus berjualan es lebih dulu. Namun, setelah es terjual, ia justru memilih menjual bagian jatahnya daripada memakannya. Hal serupa terjadi saat ia ingin bermain layang-layang—ia menjual layang-layang tetapi uang hasil penjualannya diserahkan kepada ibunya.

Selain itu, Dedi juga mencari penghasilan dengan mengumpulkan kayu bakar dan menjadi kuli pikul batu bata demi bisa membeli baju baru untuk Lebaran. Satu batu bata dibayar Rp1 perak, dan ia mampu mengangkut 10 biji dari hutan sejauh 5 kilometer.

Mimpi Menjadi Tentara yang Gagal Terwujud

Memasuki masa SMA, Dedi bekerja sebagai tukang ojek di kampungnya. Ia mengumpulkan Rp2.000 per hari untuk tambahan biaya sekolah. Setelah lulus SMA, ia mencoba mengikuti jejak ayahnya dengan mendaftar ke Akademi Militer (AKABRI) dan Sekolah Calon Perwira (Secapa), tetapi gagal karena berat badannya hanya 48 kg, sementara syarat minimalnya adalah 55 kg.

Dedi juga diterima di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad), tetapi tidak dapat melanjutkan karena kendala biaya. Ia kemudian merantau ke Purwakarta bersama kakaknya dengan membawa lima helai pakaian dan tinggal di kontrakan sederhana yang hampir roboh. Di sana, ia menjalani kehidupan sulit hingga harus tidur di lantai tanpa alas.

Perjalanan Pendidikan dan Awal Karier Politik

Di tengah keterbatasan, Dedi tetap bertekad melanjutkan pendidikan. Ia akhirnya berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Purwakarta sambil berjualan gorengan dan berbagai usaha lainnya untuk membiayai kuliah dan aktivitas organisasinya. Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan menjadi Ketua HMI Cabang Purwakarta pada 1994.

Dedi juga aktif dalam gerakan buruh, tergabung dalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) pada 1997 dan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) pada 1998. Keterlibatannya dalam dunia aktivis membawanya terjun ke politik dan terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Purwakarta pada 1999 melalui Partai Golkar.

Karier Politik: Dari DPRD Hingga Gubernur Jawa Barat

Karier politik Dedi semakin melesat. Pada 2003, ia terpilih menjadi Wakil Bupati Purwakarta mendampingi Lily Hambali Hasan. Lima tahun kemudian, ia memenangkan Pilbup Purwakarta 2008 dan menjadi bupati berpasangan dengan Dudung B Supardi. Ia kembali terpilih untuk periode kedua pada 2013-2018.

Di internal Partai Golkar, Dedi berhasil menduduki posisi Ketua DPD Golkar Jawa Barat secara aklamasi. Pada Pilgub Jabar 2018, ia mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur mendampingi Deddy Mizwar, tetapi kalah. Ia kemudian melanjutkan kiprahnya di tingkat nasional sebagai anggota DPR RI.

Pada Pilgub Jabar 2024, Dedi Mulyadi maju sebagai calon gubernur dari Partai Gerindra. Dengan pengalaman panjang di pemerintahan dan kedekatan dengan rakyat, ia berhasil meraih kemenangan dengan perolehan suara 62,22 persen.

Kesederhanaan dan Kedekatan dengan Masyarakat

Dedi Mulyadi dikenal sebagai sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat dan memiliki gaya kepemimpinan sederhana. Ia kerap turun langsung ke masyarakat, terutama di pedesaan, untuk melihat kondisi warga. Kedekatannya dengan masyarakat dan gaya komunikasinya yang khas membuatnya mendapat tempat di hati rakyat Jawa Barat.

Dengan pengalaman panjangnya di berbagai posisi pemerintahan, Dedi Mulyadi kini bersiap memimpin Jawa Barat untuk lima tahun ke depan. Publik menantikan bagaimana kepemimpinannya akan membawa perubahan bagi provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia ini. (red-msitompul)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan