MTU News
Beranda Daerah Flores Bukan Ladang Eksploitasi, Warga Menolak Geothermal

Flores Bukan Ladang Eksploitasi, Warga Menolak Geothermal

Foto: Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang menjadi pembangkit listrik tenaga geothermal pertama di Asia Tenggara yang memproduksi green hydrogen atau hidrogen hijau.(Dok. PLN Indonesia Power)

ENDE || MTUNews.com – Ribuan warga Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), turun ke jalan dalam aksi demonstrasi besar-besaran menolak eksploitasi panas bumi (geothermal) di Pulau Flores, Kamis (5/6/2025). Aksi ini bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Foto: Ribuan warga di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan aksi demonstrasi menolak pembangunan geothermal pada Kamis (5/6/2025)(KOMPAS.com/SERAPHINUS JEHADU)

Sekitar dua ribuan warga dari berbagai desa dan kecamatan memadati ruas Jalan Eltari, kota Ende. Massa kemudian melakukan long march menuju Kantor Bupati dan DPRD Ende. Didampingi para rohaniwan Katolik, mereka membawa spanduk, berorasi, dan meneriakkan penolakan terhadap proyek geothermal yang dinilai merusak alam dan kehidupan masyarakat lokal.

Sesampainya di halaman kantor pemerintah, warga menyampaikan aspirasi mereka secara langsung. Mereka menuntut pemerintah pusat mencabut status Pulau Flores sebagai “Pulau Geothermal” dan menghentikan seluruh aktivitas pengeboran.

Vikep Ende, Romo Frederikus Wea Dopo, yang turut hadir dalam aksi, menegaskan bahwa mayoritas warga Ende (sekitar 78 persen) menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Ia menyebut eksploitasi geothermal telah mencemari lingkungan, menurunkan produktivitas pertanian seperti kopi, cengkih, dan sayuran, serta mengganggu ketahanan ekonomi warga.

“Tanah, air, dan hutan adalah fondasi hidup masyarakat Flores. Jika itu dirusak, maka seluruh aspek kehidupan terganggu, termasuk budaya,” ujar Romo Frederikus.

Ia mencontohkan kasus di Sukoria, Kecamatan Ende, di mana sekitar 90 persen warga terdampak buruk akibat aktivitas geothermal. Tanaman rusak, kualitas air menurun, dan ketegangan sosial meningkat. Ia menilai proyek geothermal ini dijalankan tanpa transparansi, tanpa persetujuan masyarakat, dan cenderung elitis.

“Penetapan Flores sebagai pulau geothermal dilakukan secara sepihak. Tidak ada sosialisasi yang jujur dan terbuka. Ini bukan hanya isu lingkungan, tapi juga soal keadilan dan kedaulatan masyarakat atas tanahnya,” tegasnya.

Warga juga menyoroti kerusakan budaya dan konflik horizontal yang mulai muncul akibat proyek ini. Menurut mereka, tanah di Flores bukan sekadar sumber daya, tetapi bagian integral dari sistem kepercayaan, adat istiadat, dan keberlangsungan hidup orang Flores.

Massa aksi berjanji akan terus melakukan demonstrasi yang lebih besar bila pemerintah tidak segera mencabut keputusan dan menghentikan proyek geothermal di seluruh wilayah Flores. “Kami akan terus bergerak sampai Flores bebas dari ancaman eksploitasi,” seru salah satu orator. (red-Malwin Sitompul)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan