Akses ke SMPN 17 & SMAN 6 Tangsel Ditutup Warga
TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru 2025/2026 di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Senin (14/7/2025), diwarnai protes warga dengan menutup akses jalan menuju sejumlah sekolah negeri, termasuk SMAN 6, SMAN 3, dan SMPN 17 Pamulang. Penutupan dilakukan menggunakan rantai dan gembok, serta disertai pemasangan spanduk protes yang mencantumkan kekecewaan warga terhadap sistem penerimaan murid baru (SPMB) tahun ini.
Pantauan di lokasi, para orangtua murid tampak kesulitan mengantar anaknya ke sekolah karena hanya bisa sampai di gerbang perumahan Pamulang Permai. Akses jalan menuju sekolah yang berada sekitar 200-300 meter dari gerbang tersebut ditutup total oleh warga. Akibatnya, kendaraan pribadi tidak bisa masuk, dan anak-anak terpaksa berjalan kaki menuju sekolah tanpa didampingi orangtuanya.
“Sedih rasanya. Ini hari pertama masuk sekolah, anak saya harusnya bisa saya temani sampai sekolah. Tapi sekarang hanya sampai gerbang saja,” ungkap Yoyo (39), orangtua siswa SMPN 17.

Aksi blokade ini disebut sebagai bentuk kekecewaan warga yang anak-anaknya tidak diterima di sekolah negeri terdekat meskipun secara domisili tinggal di lingkungan tersebut. Dalam spanduk yang dipasang warga, mereka menyatakan bahwa SPMB tahun ini dianggap mengabaikan hak anak-anak setempat untuk mengenyam pendidikan di wilayah tempat tinggalnya.
“Dari sembilan anak warga kami yang mendaftar ke SMAN 6 dan SMPN 17, tak satu pun diterima,” ujar salah satu warga.
Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah Tangsel, Teguh Setiawan, menegaskan bahwa jalan yang ditutup warga merupakan jalan umum yang selama ini digunakan siswa, guru, dan masyarakat. Ia meminta agar portal segera dibuka karena penutupan tersebut menghambat kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan aktivitas pendidikan lainnya.
“Tindakan ini sangat mengganggu. Kami sudah berkoordinasi dengan pihak kelurahan, kecamatan, Polsek Pamulang, Polres Tangsel, dan Satpol PP untuk segera menindaklanjuti agar portal dibuka hari ini,” jelas Teguh.

Penutupan ini diduga turut dipicu oleh berkurangnya kuota jalur zonasi dalam sistem SPMB 2025 dan adanya dugaan praktik kong kali kong yang sudah lama menjadi keluhan di Tangsel. Para orangtua dan warga berharap ada dialog terbuka dan solusi adil agar anak-anak di lingkungan sekitar sekolah tidak terus-menerus tersisih dari akses pendidikan. (red-Win)










