Batal Menikah, Wanita Pilih Kembali ke Cinta Lama
TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Sehari sebelum pesta pernikahannya digelar, ketika segala persiapan sudah rapi, gaun sudah terjahit sempurna, dan undangan sudah tersebar, seorang wanita membuat keputusan yang tak pernah terbayangkan oleh siapa pun: ia membatalkan pernikahannya. Alasannya sederhana, tapi begitu dalam—sebuah pesan singkat dari mantan suami yang kembali mengguncang hatinya.
Kisah ini, dikutip dari Eva.vn Sabtu (6/9/2025), berakar dari perjalanan cinta yang penuh luka. Beberapa tahun lalu, wanita itu pernah menikah dengan pria yang dikenalnya selama lima tahun. Mereka hidup sebagai suami istri selama tiga tahun, namun pernikahan itu jauh dari kata bahagia. Sejak awal, ia tak pernah benar-benar diterima oleh keluarga suaminya. Upaya untuk meraih pengakuan selalu kandas, membuat hari-hari pernikahannya terasa seperti berjalan di atas bara. Meski sang suami dikenal baik dan setia, keberadaannya diapit antara istri dan orang tua membuatnya sering memilih diam, membiarkan istrinya berjuang sendirian.
Pernikahan mereka pun lahir dari keadaan terburu-buru. Saat itu, sang istri tengah mengandung beberapa bulan, sementara pihak keluarga pria tak memberi mahar atau dukungan finansial sedikit pun. Orang tua sang wanita kecewa, dan kekecewaan itu semakin dalam ketika mengetahui anaknya tak diperlakukan dengan adil. Akhirnya, perceraian menjadi jalan yang tak terelakkan. Dengan hati hancur, wanita itu meninggalkan rumah tanpa membawa harta, bahkan tanpa bisa membawa anaknya, karena ditolak keluarga mantan suami. Sejak itu, ia hidup sendiri, menanggung sepi, meski sesekali masih berhubungan dengan mantan suaminya demi kepentingan sang anak.

Dua tahun kemudian, atas desakan keluarga, ia mencoba membuka hati lagi. Lewat perantara, ia bertemu seorang duda mapan yang tampak penuh perhatian. Lamaran pun diterima, dan pesta pernikahan nyaris siap digelar. Namun, takdir seolah berputar arah. Menjelang hari bahagia, mantan suami justru semakin sering menghubunginya. Ia mengirim kabar, berbicara dengan nada penuh penyesalan, hingga mengutarakan rencana besar: menabung demi membeli rumah agar bisa hidup mandiri, jauh dari campur tangan orang tua.
Puncaknya terjadi di malam sebelum akad. Mantan suami menelepon panjang lebar, suaranya bergetar oleh penyesalan dan cinta yang tak pernah padam. Setelah percakapan itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel sang wanita: “Perasaanku padamu tetap sama. Aku tidak pernah berubah.” Hanya kalimat sederhana, tapi cukup untuk meruntuhkan benteng yang selama ini coba ia bangun. Malam itu, ia menyadari sesuatu—bahwa cinta sejatinya masih bersemayam di hati pria yang pernah menjadi suaminya.
Sepanjang malam ia bergulat dengan perasaan. Esok paginya, ia membuat keputusan besar: membatalkan pernikahan. Meski keluarganya marah besar dan banyak pihak menilai tindakannya gegabah, ia memilih kembali pada cinta yang lama, cinta yang meski penuh luka, tetap mampu menggetarkan jiwanya. Baginya, kebahagiaan keluarga tak harus sempurna, yang terpenting adalah ada cinta dan kesediaan untuk berjuang kembali.
Keputusannya menuai pro dan kontra. Sebagian menyebutnya bodoh, sebagian lagi menilainya berani. Namun bagi sang wanita, itu adalah jalan pulang—jalan untuk memperbaiki rumah tangga yang sempat runtuh, demi cinta yang belum padam dan demi senyum sang anak. Karena pada akhirnya, cinta yang sejati selalu menemukan jalannya pulang.










