Bunyi Lonceng Gereja HKBP Jadi Penyelamat Warga Taput
TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Hujan deras yang mengguyur hingga larut malam mengubah ketenangan warga Dusun Parsikkaman, Desa Pagaran Lambung I, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, pada Senin (24/11/2025), menjadi kepanikan. Sekitar pukul 23.00 WIB, lonceng Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Parsikkaman dibunyikan keras sebagai tanda peringatan bencana banjir yang mengancam permukiman warga.
Bunyi lonceng tersebut dibunyikan oleh Pendeta Resort HKBP Parsikkaman, Castel Sianipar, yang menyadari meningkatnya debit air sungai di bawah gereja. Gereja yang berada di dataran lebih tinggi itu menjadi titik pantau alami, sementara aliran air tidak hanya datang dari sungai, tetapi juga meluap dari sisi gereja menuju permukiman warga di bawahnya.
Salah seorang warga, Firman Susi Hutauruk, menuturkan bahwa suara lonceng membangunkan warga dari tidur dan menjadi penanda untuk segera menyelamatkan diri. Warga yang lebih dulu datang dari arah gereja berkeliling membangunkan tetangga agar segera meninggalkan rumah. Saat itu, air telah mencapai ketinggian selutut orang dewasa, sementara listrik di desa sudah padam sehingga situasi menjadi gelap gulita.

Pendeta Castel Sianipar memilih tetap berada di gereja untuk memantau situasi, termasuk potensi longsor, hingga warga berhasil mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun musibah belum berakhir. Pada Selasa (25/11/2025) sekitar pukul 03.00 WIB, banjir susulan disertai material longsor kembali menerjang permukiman warga. Air berwarna kuning pekat membawa tanah, kayu, dan bebatuan yang menghantam rumah-rumah di sepanjang jalan desa.
Akibat peristiwa tersebut, tiga warga dilaporkan meninggal dunia tertimbun material longsor. Tujuh rumah mengalami kerusakan berat dan tidak dapat dihuni, sementara sekitar 20 kepala keluarga terpaksa mengungsi. Listrik di dusun tersebut padam selama lima hari dan akses komunikasi terputus. Selama masa isolasi, warga bertahan dengan memanfaatkan persediaan sembako dari sebuah truk yang terjebak di lokasi sebelum bantuan resmi tiba pada hari ketujuh. Pasca bencana, warga berharap perbaikan infrastruktur seperti gorong-gorong segera dilakukan agar banjir serupa tidak kembali terulang saat hujan deras. (red-ms)









