Ia menilai pemerintah saat ini menghadapi tantangan besar dalam membangun kembali kepercayaan publik di tengah perubahan perilaku masyarakat, sehingga pelayanan, komunikasi, dan kemudahan akses harus dihadirkan secara cepat dan adaptif. Menurutnya, transformasi komunikasi menjadi kunci, mengingat Ditjen Imigrasi merupakan representasi wajah pelayanan negara, baik bagi masyarakat domestik maupun warga negara asing.
Benny juga menekankan bahwa citra dan reputasi Imigrasi Indonesia harus dijaga secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya nation branding di tingkat global. Dalam paparannya, ia menguraikan pergeseran dinamika dunia dari era VUCA menuju BANI yang lebih rapuh, tidak linear, dan sarat ketidakpastian, sehingga menuntut pendekatan komunikasi yang lebih empatik dan responsif.
Dalam konteks tersebut, ia mendorong peran humas sebagai pusat komando narasi yang tidak lagi bersifat reaktif, melainkan proaktif dalam membaca situasi, mengelola ekspektasi publik, serta membangun kepercayaan melalui penguatan relasi media dan pemanfaatan social listening. Selain itu, komunikasi kepemimpinan dinilai krusial sebagai proses membentuk makna, menumbuhkan kepercayaan, dan menggerakkan organisasi agar tetap lincah dan tangguh menghadapi perubahan. (red-win)
sumber: Antara