MTU News
Beranda Partai PSI: Jokowi Tinggalkan PDI-P, Bukan Dipecat

PSI: Jokowi Tinggalkan PDI-P, Bukan Dipecat

Ilustrasi perseteruan politik antara PDI-P dan PSI terkait mencuatnya kabar Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang disebut akan bergabung sebagai Dewan Penasihat PSI. (Ilustrasi dibuat dengan AI | Kompas.com/BAL)

JAKARTA || MTUNews.com – Ketua DPP PSI, Bestari Barus, menilai PDI Perjuangan (PDI-P) masih menyimpan kekecewaan atas berakhirnya hubungan politik dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Menurut Bestari, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sejumlah elite PDI-P terus mengungkit status Jokowi yang disebut telah dipecat dari partai pada akhir 2024.

Bestari berpandangan bahwa Jokowi tidak meninggalkan PDI-P karena pemecatan, melainkan memilih mengambil jalan politiknya sendiri. Ia bahkan menyebut narasi pemecatan yang terus disampaikan PDI-P merupakan upaya untuk meredam kesan bahwa partai berlambang banteng moncong putih itu kehilangan salah satu kader paling berpengaruh dalam sejarah politiknya.

Menurut Bestari, Jokowi merupakan figur yang memiliki kontribusi besar dalam mengangkat elektabilitas dan kemenangan PDI-P di tingkat nasional. Karena itu, ia menilai sulit bagi partai tersebut untuk menemukan sosok pengganti yang memiliki daya tarik politik serupa. Ia juga menyayangkan masih munculnya pernyataan-pernyataan yang dinilainya bernada menyerang Jokowi, meski mantan Presiden RI dua periode itu disebut tidak pernah secara terbuka melontarkan kritik kepada PDI-P.

Pernyataan Bestari muncul sebagai respons atas komentar politikus PDI-P, Guntur Romli, yang menegaskan bahwa Jokowi bukan keluar atau mengundurkan diri dari partai, melainkan dipecat. Guntur menyebut keputusan tersebut diambil karena Jokowi dinilai melakukan pelanggaran terhadap konstitusi, AD/ART, dan peraturan partai. Pemecatan itu, kata dia, juga mencakup Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Bobby Nasution, serta sejumlah kader lainnya pada Desember 2024.

Guntur menegaskan bahwa sejak keputusan tersebut ditetapkan, status Jokowi sebagai kader PDI-P telah berakhir. Karena itu, menurutnya, langkah politik Jokowi ke depan, termasuk jika bergabung atau menduduki posisi strategis di PSI, bukan lagi menjadi urusan internal PDI-P. Ia juga menilai para pendukung Jokowi perlu konsisten dalam menyikapi hubungan antara tokoh politik dan partai yang menaunginya.

Perdebatan antara PSI dan PDI-P kembali menghangat seiring menguatnya kabar bahwa Jokowi akan menempati posisi Dewan Pembina atau Dewan Penasihat PSI. Wacana tersebut memunculkan saling respons dari kedua partai, sekaligus menandai masih berlanjutnya dinamika politik pasca-berakhirnya hubungan antara Jokowi dan PDI-P. (red-sjs)

sumber: kompas.com

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan