MTU News
Beranda Agama Paskah 2026: Ragam Tradisi Unik dari Seluruh Dunia

Paskah 2026: Ragam Tradisi Unik dari Seluruh Dunia

Ilustrasi: Happy Easter 2026

TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Perayaan Paskah 2026 tinggal menghitung jam. Tahun ini, Minggu Paskah jatuh pada 5 April 2026, setelah didahului Jumat Agung pada 3 April.

Sebagai salah satu hari raya terpenting dalam kalender Kristen, Paskah dirayakan di berbagai penjuru dunia dengan cara yang beragam. Setiap negara memiliki tradisi khas yang mencerminkan kekayaan budaya lokal, mulai dari simbol, ritual, hingga hidangan yang disajikan.

Berikut ragam tradisi unik Paskah dari berbagai belahan dunia:

Australia

Di Australia, Paskah berlangsung saat musim gugur, menghadirkan nuansa berbeda dibanding negara-negara di belahan bumi utara. Gereja-gereja dihiasi bunga, sementara himne mengiringi ibadah Minggu Paskah.

Anak-anak bertukar telur cokelat atau permen, namun yang unik, sosok kelinci Paskah kerap digantikan oleh bilby—hewan marsupial asli Australia yang terancam punah. Inisiatif ini muncul sebagai bentuk kepedulian terhadap dampak ekologis kelinci liar.

Perayaan juga diramaikan oleh Sydney Easter Show yang digelar di Sydney Olympic Park dan menarik jutaan pengunjung setiap tahun.

Brasil

Sebagai negara dengan populasi Katolik terbesar, Brasil merayakan Paskah dengan meriah. Pekan Suci diawali dengan tradisi menganyam daun palem menjadi berbagai bentuk simbolis.

Di sejumlah kota, pesta rakyat dan parade digelar, diiringi musik dan tarian oleh kelompok blocos. Tradisi unik lainnya adalah pembakaran boneka Yudas Iskariot sebagai simbol penolakan terhadap pengkhianatan.

Hidangan khas seperti paçoca, telur cokelat, dan kue Paskah menjadi sajian utama, sementara konsumsi daging umumnya dihindari selama periode ini.

Italia

Italia merayakan Paskah di tengah suasana musim semi yang hangat. Ungkapan “Natale con i tuoi, Pasqua con chi vuoi” mencerminkan kebebasan merayakan bersama siapa saja.

Hidangan seperti frittata, domba panggang, dan roti colomba menjadi bagian penting perayaan keluarga. Di Roma, Paus memimpin prosesi Jalan Salib, sementara di Firenze digelar tradisi scoppio del carro—atraksi kembang api dari kereta hias.

Telur cokelat berisi kejutan (sorpresa) juga menjadi ciri khas, melengkapi suasana penuh kegembiraan.

Yunani

Di Yunani, Pekan Suci dikenal sebagai Megali Evdomada. Pada Jumat Agung, prosesi arak-arakan peti simbolis Kristus berlangsung khidmat.

Telur Paskah dicat merah sebagai lambang darah Kristus. Tradisi tsougrisma—saling mengetukkan telur—dilakukan sambil mengucapkan “Christos Anesti”, dengan keyakinan bahwa pemenangnya akan memperoleh keberuntungan.

Polandia

Polandia dikenal dengan tradisi Paskah yang kaya warna. Telur hias bernama pisanki dibuat dengan teknik khusus, termasuk pewarna alami dari kulit bawang.

Keranjang Paskah menjadi tradisi utama. Keranjang berlapis kain putih diisi telur, roti, sosis, garam, dan kue, lalu dibawa ke gereja untuk diberkati.

Puncak perayaan terjadi pada Śmigus-Dyngus atau Wet Monday, ketika masyarakat saling menyiram air sebagai simbol kesuburan dan kesehatan.

Jerman

Di Jerman, tradisi Osterfeuer atau api unggun Paskah menjadi momen penting. Api besar dinyalakan pada malam sebelum Minggu Paskah sebagai simbol kemenangan terang atas kegelapan dan berakhirnya musim dingin.

Kini, tradisi ini berkembang menjadi perayaan rakyat yang meriah, lengkap dengan makanan, musik, dan kebersamaan komunitas.

Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, Paskah identik dengan kebersamaan keluarga. Tradisi berburu telur menjadi aktivitas favorit anak-anak, di mana telur dihias dan disembunyikan untuk ditemukan bersama.

Ada pula tradisi Ostereierbaum atau pohon telur Paskah, di mana telur hias digantung pada ranting pohon sebagai dekorasi.

Prancis

Di Kota Bessières, Prancis, perayaan Paskah ditandai dengan pembuatan omelet raksasa dari sekitar 15.000 butir telur. Omelet dimasak di alun-alun menggunakan wajan besar dan sendok kayu raksasa.

Tradisi ini dikaitkan dengan Napoleon Bonaparte yang konon pernah meminta dibuatkan omelet besar untuk pasukannya setelah menikmati hidangan telur di daerah tersebut. (red-sam) sumber: Sesilia Ayu Febriani

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan