Kemarau 5 Bulan, Ribuan Rumah Muncul dari Bendungan Karian
MTUNews.com, LEBAK — Fenomena surutnya air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, kembali menampakkan bekas permukiman warga yang sebelumnya terendam. Setelah sekitar lima bulan mengalami kemarau, ribuan rumah di kawasan tersebut kini terlihat di permukaan dengan kondisi rusak dan dipenuhi lumpur.
Pantauan Kompas.com pada Kamis (29/10/2026) menunjukkan, bangunan-bangunan yang sebelumnya berada di bawah genangan bendungan kini kembali terlihat. Selain rumah warga, dua bangunan masjid yang sempat terendam juga tampak muncul di antara kawasan bekas permukiman tersebut.
Seorang warga, Maman, mengatakan, sebelum kawasan itu terendam, permukiman warga berada di tepi Sungai Ciberang yang menjadi salah satu sumber pasokan air Bendungan Karian. Setelah sungai dibendung dan kawasan tersebut masuk dalam area genangan, warga dari dua desa harus direlokasi.

“Memang tidak sepenuhnya tenggelam, enggak sampai atap, kira-kira dua sampai tiga meter,” ujar Maman saat ditemui di bekas Kampung Somang, Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, Lebak, Kamis (29/10/2026).
Menurut Maman, terdapat dua desa yang terdampak genangan Bendungan Karian, yakni Desa Sukajaya dan Desa Sukarame. Secara keseluruhan, sekitar 2.000 rumah disebut berada di kawasan permukiman yang terendam tersebut.
Maman sendiri termasuk warga yang direlokasi pada awal 2020. Kini, ia tinggal di permukiman baru di Kampung Somang Baru yang disediakan bagi warga terdampak pembangunan Bendungan Karian.
Ketua RT Kampung Somang, Unar, menjelaskan, penyusutan air bendungan mulai terlihat sekitar lima bulan lalu. Seiring berjalannya waktu, genangan terus berkurang hingga kawasan bekas permukiman yang sebelumnya masih terendam kini benar-benar kering.

“Surut sedikit demi sedikit. Awalnya bekas permukiman masih ada genangan, tapi sekarang benar-benar kering. Bahkan warga bisa menyeberang pakai jembatan yang kita buat dari perahu getek,” kata Unar.
Untuk menyeberang menuju bekas permukiman, warga menggunakan jembatan yang dibuat dari perahu getek. Pengguna dikenai biaya Rp2.000 untuk pejalan kaki dan Rp5.000 untuk sepeda motor.
BBWS: Air Tetap Disalurkan untuk Irigasi
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3), Dedi Yudha Lesmana, menjelaskan bahwa penurunan muka air Bendungan Karian dipengaruhi berkurangnya debit air yang masuk dari wilayah hulu selama musim kemarau.

Di sisi lain, bendungan tetap dioperasikan untuk menyalurkan air guna memenuhi kebutuhan irigasi, khususnya mendukung Daerah Irigasi Ciujung menjelang musim tanam pertama pada awal November 2026.
“Memang ada penurunan elevasi tinggi muka air waduk dikarenakan kurangnya debit masukan dari hulu selama musim kering ini, sementara waduk harus beroperasi sebagaimana salah satu fungsinya yaitu menyediakan air untuk mendukung Daerah Irigasi Ciujung menjelang Musim Tanam I di awal November ini,” kata Dedi melalui pesan tertulis, Kamis.
Ia menjelaskan, air dilepas menuju Bendung Pamarayan dan Daerah Irigasi Ciujung melalui Sungai Ciberang, yang selanjutnya mengalir ke Sungai Ciujung. Penyaluran tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air pertanian menjelang musim tanam.
Selain mendukung irigasi, pengaturan volume tampungan juga menjadi bagian dari langkah antisipasi menghadapi musim hujan yang diperkirakan mulai pada November 2026. Ruang tampungan yang tersedia diharapkan dapat menampung tambahan air hujan sehingga membantu mengurangi potensi banjir.

Dedi menyebutkan, pengurangan tampungan dilakukan dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan air irigasi. Bendungan diarahkan menuju kondisi tampungan sekitar 60 persen sebagai bagian dari persiapan menghadapi musim hujan.
Volume Tampungan Masih dalam Kondisi Normal
Berdasarkan data BBWSC3 pada Kamis (29/10/2026) pukul 15.38 WIB, volume tampungan Bendungan Karian tercatat sebesar 253,89 juta meter kubik. Dari jumlah tersebut, air yang tersimpan mencapai 183,03 juta meter kubik atau sekitar 72,1 persen, sedangkan ruang tampungan yang tersedia mencapai 70,85 juta meter kubik atau 27,9 persen.
Dedi menegaskan, kondisi bendungan masih berstatus normal. Penurunan muka air terus dipantau oleh Unit Pengelola Bendungan untuk memastikan operasional waduk tetap berjalan sesuai ketentuan.

Saat ini, elevasi muka air Bendungan Karian berada pada posisi +62,6 meter di atas permukaan laut (mdpl). Menurut Dedi, berdasarkan Rencana Tahunan Operasi Waduk 2025/2026, posisi tersebut masih termasuk dalam Batas Operasi Normal Atas (BON A).
Ia menambahkan, bekas permukiman Kampung Somang berada di wilayah hulu dengan ketinggian antara +62 hingga +75 mdpl. Letaknya yang relatif tinggi membuat kawasan tersebut lebih cepat terlihat ketika permukaan air bendungan mengalami penurunan.
Munculnya kembali ribuan rumah tersebut menjadi gambaran nyata perubahan kondisi kawasan genangan Bendungan Karian selama musim kemarau. Meski demikian, pengelola bendungan menyatakan bahwa pengaturan air tetap dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan irigasi serta kesiapan tampungan untuk menghadapi musim hujan. (Red-MS)
#MTUNews #BendunganKarian #Kemarau #KabupatenLebak #Banten #SungaiCiberang #BeritaNasional #InformasiPublik

sumber: kompas.com















