Menurut Sani, kemampuan mengenali dan memahami emosi menjadi kunci dalam menjalani proses berduka secara sehat. Tanpa pemahaman tersebut, seseorang dapat kesulitan mengelola perasaan kehilangan yang dialami.
Ia menjelaskan, dalam proses kedukaan, seseorang dapat mengalami berbagai gejala seperti rasa rindu, kehilangan, penyesalan, hingga emosi yang bercampur antara sedih dan marah yang muncul berulang. Selain itu, perlu diwaspadai adanya delay effect atau reaksi duka yang tertunda, di mana seseorang tampak baik-baik saja di awal, namun kemudian merasakan duka yang lebih kuat di kemudian hari.
Oleh karena itu, Sani menyarankan pentingnya dukungan sejak awal, termasuk pendampingan oleh tenaga profesional seperti psikolog, terutama jika kehilangan terjadi secara mendadak, misalnya akibat kecelakaan. Pendampingan ini dinilai dapat membantu individu memahami tahapan kedukaan dan menemukan cara yang paling sesuai untuk menghadapinya.
Dalam memberikan dukungan, Sani menekankan pentingnya empati, seperti mendengarkan cerita tanpa menghakimi dan memberi ruang bagi individu untuk mengekspresikan kesedihan. Ia juga menyebutkan bahwa bentuk kedekatan emosional, seperti pelukan, dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian dalam menghadapi duka.
Selain itu, masyarakat diingatkan untuk tidak memberikan penilaian negatif terhadap orang yang sedang berduka. Ekspresi seperti menangis terus-menerus atau kesulitan tidur merupakan hal yang wajar dan menjadi bagian dari proses berduka yang perlu dihormati.
Sani menegaskan bahwa dukungan lingkungan yang penuh empati dan tanpa penghakiman akan sangat membantu individu menjalani proses kedukaan secara lebih optimal dan sehat. (red-ms)