PLN: ‘Green Hidrogen’ Jadi Bahan Bakar Masa Depan
Jakarta – Selama ini penggunaan bahan bakar fosil menjadi pilihan utama dalam menjalankan aktifitas sehari-hari maupun industri. Namun seiring dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan karena dampak kotor dari tingginya karbon /CO2 maupun polusi udara lokal yang dihasilkan serta pengaruhnya yang signifikan terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup populasi di alam ini perlahan perannya coba diganti dengan bahan bakar alternatif yang rendah karbon.
Dengan dominannya penggunaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik, banyak negara berkomitmen untuk menghapuskan penggunaan tenaga batu bara dari bauran listrik mereka secara bertahap. Beberapa negara sudah bebas batubara. Sementara yang lain telah menetapkan untuk menghapusnya secara bertahap pada tahun 2030, 2040, atau setelahnya. Beberapa belum berkomitmen untuk menghilangkannya.
Perusahaan Listrik Negara (PLN) sendiri menyatakan bahwa produksi hidrogen hijau atau Green Hydrogen Plant di Indonesia diproyeksikan menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan di masa depan.

Proyeksi tersebut menyusul diresmikannya 21 unit Green Hydrogen Plant di beberapa wilayah di Indonesia pada 20 November 2023.
“Di luar negeri itu sudah banyak kendaraan hidrogen dan di Indonesia ini harus kita mulai. Nah, mulainya dari mana? Dari sinilah pasokan atau ekosistemnya dibangun dari hulu ada Green Hydrogen Plant kemudian nanti di sisi hilirnya akan dibangun pompa (pom) hidrogen atau Hydrogen Refueling Station (HRS),” ungkap General Manager PT PLN Indonesia Power (IP) Priok Power Generation Unit (PGU), Subawa Putra, Kamis (7/12).
Subawa melanjutkan, untuk perbandingan komersil antara hidrogen, baterai (kendaraan listrik) dan bensin, hidrogen merupakan bahan bakar paling ekonomis.
“Secara komersil, per kilometer yang dihasilkan dari 21 Green Hidrogent Plant adalah Rp355 per kilometer. Sementara hitungan kami dengan EV ( electric vehicle) itu sekitar Rp370 per kilometer dan mobil bensin, itu Rp1.600 per kilometer,” kata Subawa.

Menurutnya, Green Hidrogent Plant adalah energi yang menjanjikan di masa depan. Green Hidrogen Plant 100 persen bersumber dari Energi Baru Terbarukan (EBT) dan mampu memproduksi 51 ton hidrogen per tahun.
“Hidrogen hijau” merupakan sumber energi bersih yang hanya mengeluarkan uap air dan tidak meninggalkan residu di udara atau menambah emisi karbon gas rumah kaca.
“Saya kira kedepan, ini adalah salah satu energi yang cukup menjanjikan. Mudah-mudahan pemerintah juga akan mengeluarkan kebijakan untuk mendorong pembangunan Green Hidrogent Plant ini untuk transportasi dan untuk sisi pembangkit,” kata Subawa.
Pemerintah Indonesia sendiri melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan akan berkomitmen untuk mengembangkan ini dan terus melakukan kajian dan merumuskan kebijakan yang lebih komperhensif untuk mendorong hidrogen hijau berkembang di Indonesia.

“Pemerintah berkomitmen untuk mengembangkan ini dan terus melakukan kajian dan merumuskan kebijakan yang lebih komperhensif untuk mendorong hidrogen hijau ini berkembang di Indonesia.
Yang dilakukan PLN Ini adalah terobosan luar biasa. Ke depan, hidrogen hijau ini adalah “game changer” dalam transisi energi,” ucap,” ucap Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Yudo Dwinanda Priaadi saat peresmian Green Hidrogent Plant pertama di Muara Karang, Pluit, Oktober lalu.
Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan hidrogen hijau. Negara tetangga, seperti Singapura bahkan telah menyatakan kebutuhan hidrogen hijau dan akan menyerap produksi dari Indonesia.
Ke depannya Green Hidrogen menjadi salah satu pilar utama dalam transisi energi untuk mencapai target ‘Net Zero Emissions” (NZE) di tahun 2060. (Antara/GHP)













