Mengambil tempat di Benteng Vastenburg puluhan ribu perempuan kader PDIP dan kelompok relawan memadati benteng tersebut. Warna merah tampak mendominasi karena orang yang berkumpul rata-rata mengenakan kaos/baju warna merah menyelimuti area benteng tersebut.
Sitih Atikoh hadir di Kota Solo, didampingi oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang juga Sekretaris TPN Ganjar-Mahfud. Sementara itu Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo tampak berbaur dengan massa yang tampak begitu antusias mengikuti acara.

Acara ini sendiri bertajuk “Perempuan Berdaya Menuju Indonesia Unggul” dan dimeriahkan oleh artis penyanyi seperti Yeni Inka, ANF Band, dan Kidung Riang.
Sebelum acara dimulai Siti Atikoh bersalaman dan berswafoto dengan para peserta termasuk para disabilitas yang ikut hadir.
Ketua DPC PDIP Solo FX Hady Rudyatmo dalam sambutannya mengatakan bahwa puluhan ribu peserta yang hadir ini adalah pejuang.
“Ini adalah srikandi-srikandi dari Solo. Solo itu pejuang sejati,” ujar FX Rudy.

Sementara Siti Atikoh dalam orasinya menyatakan bahwa dirinya meyakini perempuan yang hadir di lokasi ini memiliki mental baja. Dia bersyukur bisa bertemu dan menyapa mereka.
“Hari ini berada di tengah-tengah teman-teman semua pejuang-pejuang yang luar biasa,” kata Siti Atikoh.
Dia pun menceritakan dirinya pernah bekerja sebagai wartawan di Solopos pada 1997. Menjadi wartawan, menurut Atikoh, memberikan pengalaman yang luar biasa karena mengetahui dan melihat langsung segala aspek kehidupan. Isu perempuan selalu menarik perhatiannya.
“Saya setiap hari keluar masuk pasar-pasar di situ saya berdialog dengan para pedagang terutama pedagang perempuan, bagaimana mereka bisa survive,” kata Siti Atikoh.

Atikoh menganggap kondisi pedagang perempuan pada zaman dulu masih relevan untuk dibahas saat ini. Dia menolak dengan tegas bahwa perempuan memiliki fungsi 3M, macak (merias), masak (memasak), manak (melahirkan).
“Tidak! Karena tahun 1998 sudah begitu perjuangannya.Harus banyak sekali dilakukan, salah satunya ibu di rumah menjadi madrasah anak pertama, di lingkungan pasti di sini banyak yang aktif di posyandu,” ujar Siti Atikoh.
Dia bercerita, dirinya pernah bekerja sebagai wartawan di Solopos pada 1997. Menjadi wartawan, menurut Atikoh, memberikan pengalaman yang luar biasa karena mengetahui dan melihat langsung segala aspek kehidupan. Isu perempuan selalu menarik perhatiannya.
“Saya setiap hari keluar masuk pasar-pasar di situ saya berdialog dengan para pedagang terutama pedagang perempuan, bagaimana mereka bisa survive,” kata Siti Atikoh.

Atikoh menganggap kondisi pedagang perempuan pada zaman dulu masih relevan untuk dibahas saat ini. Dia menolak dengan tegas bahwa perempuan memiliki fungsi 3M, macak (merias), masak (memasak), manak (melahirkan).
“Enggak, tidak! Karena tahun 1998 sudah begitu perjuangannya. Kita harus banyak sekali dilakukan, salah satunya ibu di rumah menjadi madrasah anak pertama, di lingkungan pasti di sini banyak yang aktif di posyandu,” kata Siti Atikoh.













