MTU News
Beranda Ekonomi & Bisnis Tiongkok dan Thailand Temukan Deposit Litium baru

Tiongkok dan Thailand Temukan Deposit Litium baru

Bangkok –  Tren penggunaan baterai lithium iron phosphate (LFP) untuk kendaraan listrik menguat signifikan dalam lima tahun terakhir, tapi belum mampu mengalahkan dominasi baterai berbasis nikel kadar tinggi (high-nickel).

Meski trennya menurun, pangsa pasar baterai nikel kadar tinggi pada 2022 masih 66%, jauh melampaui pesaingnya.

Namun untuk sebagian persepsi pasar, ke depannya baterai LFP kemungkinan akan terus bertumbuh pesat dengan Tiongkok saat ini menguasai 95 persen produksinya.

Di Tiongkok, deposit litium telah ditemukan di Yajiang di provinsi Sichuan, Tiongkok barat daya. Diduga terdapat hampir satu juta ton logam paling ringan di dunia itu. Menurut media lokal, temuan ini akan sangat bermanfaat bagi negara tersebut, karena banyak digunakan dalam “New Three” barang ekspor Tiongkok yakni kendaraan energi baru, baterai litium, dan panel surya.

Menurut laporan tersebut, ketiga sektor ini menghasilkan ekspor hampir 149 miliar dolar pada tahun lalu.

Menurut Tiongkok, tambang litium di Yajiang merupakan “deposit litium pegmatit terbesar” di Asia hingga saat ini. Namun, tidak jelas dari laporan tersebut apakah temuan tersebut menyangkut satu juta ton mineral litium atau satu juta ton batuan yang mengandung litium.

Deposit litium juga ditemukan di dua lokasi di provinsi Phang-Nga di Thailand selatan. Menurut laporan awal, deposit yang baru ditemukan mengandung 14,8 juta ton litium.

Menurut juru bicara pemerintah setempat, bijih tersebut hanya mengandung 0,45% litium – cukup untuk menghasilkan satu juta baterai berkapasitas 50 kWh. Namun peneliti masih perlu memastikan apakah kualitas bijih tersebut cukup baik untuk diproduksi.

Ini adalah pertama kalinya deposit litium ditemukan di Thailand. Deposit litium terbesar yang diketahui berada di Bolivia (21 juta ton) dan Argentina (20 juta ton).

Penambangan terbesar Lithium masih dihasilkan dari sumber tambang berbentuk brine. Chile masih menjadi negara produksi terbesar dengan 7.500.000 ton, China 3.200.000 ton, Argentina 2.000.000 ton, Australia 1.600.000 ton, Portugal 60.000 ton, Brazil 48.000 ton, USA 38.000 ton, dan Zimbabwe 23.000 ton. (electrive/tje)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan