Mengenal Taktik “Double Pivot” De Zerbi
MTUNews – Sepakbola telah berkembang sedemikian rupa hingga menjadi olahraga yang populer di muka bumi ini. Olahraga ini terus berkembang dan beregenerasi sehingga tetap menarik minat para pecintanya. Tidak hanya soal euforia, keramaian, kebanggaan atau fanatisme namun juga gaya serta sistem permainan.
Sistem dalam permainan sepak bola merupakan hal yang menjadi perhatian para pelatih sepak bola. Sistem tersebut biasanya erat kaitannya dengan taktik dan strategi yang dijalankan di lapangan. Jika berhasil membawa tim menuju kejayaan dengan sistem yang diperagakan maka tim dan gaya permainannya akan terus dikenang.
Sebut saja Total Footbal milik timnas Belanda, False 9 ala Barcelona, serta Catenaccio dari Italia yang selalu diingat fans sampai saat ini, Gegenpressing-nya Jurgen Klopp hingga Juego de Posicion milik Pep Guardiola yang berhasil merajai sepakbola Eropa.

Tapi saat semua merasa bahwa taktik permainan sepakbola hanya sampai dinama-nama tersebut, variasinya cuma merubah sedikit formasi dan memasang pemain mahal yang dibutuhkan dengan segala kerumitan strateginya, ternyata ada satu nama yang memberi wawasan baru bagaimana cara bermain sepakbola yang cerdas, sederhana dan mematikan.
Dibawa oleh pelatih asal Italia, Roberto De Zerbi, sistem tersebut baru-baru ini membuat mata pecinta sepakbola melek setelah De Zerbi mampu mengangkat Brighton and Hove Albion mengalahkan tim-tim elit Liga Premier Inggris, dan mengantar klub tersebut finish di tempat ke-6.
Publik saat ini mengenalnya dengan sistem Poros Ganda atau “Double Pivot”. Dibilang sistem permainannya cerdas karena prinsip pergerakannya diatur sedemikian rupa sehingga lawan terpancing untuk membuka celah, dan di ruang-ruang kosong yang ditinggalkan tersebut peluang mencetak gol menjadi sangat terbuka lebar.
Disebut sederhana, karena sistemnya dapat dimainkan dengan efektif oleh pemain yang dianggap biasa saja, tidak bergantung kepada pemain dengan bandrol mahal. Itulah sebabnya di musim lalu, Brighton yang dimiliki Tony Bloom dan digawangi CEO Paul Barber mampu mengeruk keuntungan besar dari penjualan pemain-pemain mereka.

“Roberto merupakan salah satu manager pelatih yang paling berpengaruh dan saya sangat yakin menarik perhatian dalam 20 tahun terakhir ini karena tidak ada tim yang bermain seperti yang mereka peragakan, ini sesuatu yang unik,” puji Pep Guardiola.
“Saya punya keyakinan apa yang mereka lakukan dampaknya akan sangat bagus bagi Premier League, saya sendiri tidak menyangka itu dilakukan dalam waktu dekat. Dia mampu menciptakan rata-rata 20 sampai 25 peluang dalam sebuah pertandingan,” tambahnya.
Dikutip dari coachvoice, baik dalam tendangan gawang maupun permainan terbuka, De Zerbi menempatkan poros ganda dalam upaya menarik lawan ke posisi teratas. Timnya kemudian akan memainkan bola pendek, untuk lebih mendorong lawan melakukan blocking dan pressing, sebelum mengolah bola dari luar dan biasanya mencari bek sayap, yang berada di pinggir lapangan. Penjaga gawang bertindak sebagai bek tengah ketiga selama persiapan pergerakan tersebut, memungkinkan bek sayap untuk bergerak lebih jauh ke depan. Setelah bola melebar, kemudian dibalikkan kembali ke penyerang tengah atau nomor 10 , salah satunya akan datang ke arah bola. Posisi dalam yang diambil oleh poros ganda menciptakan ruang di tengah lapangan untuk diterima oleh penyerang tengah atau 10, dengan pemain sayap ditempatkan lebih ke atas dan bermain melebar untuk menjepit bek sayap lawan.
Ruang kosong ini memungkinkan penyerang tengah dan attacking midfielder (peran nomor 10) untuk berputar bebas, dan juga salah satu dari mereka menerima bola langsung melewati tekanan lawan dari kiper atau bek tengah. De Zerbi lebih memilih timnya untuk menjaga bola tetap di tanah, tapi dia juga senang jika pemainnya bisa mengakali lawan untuk keluar dari belakang.

J
ika lawan bersikeras untuk melakukan pressure tinggi dan mendorong pemain tambahan lebih naik lagi untuk menghadapi penguasaan bola yang dilakukan sistem ini terhadap kipernya, maka umpan yang melewati pressing adalah sebuah pilihan. Oleh karena itu, para pemain di lini pertahanannya harus memiliki kemampuan dan kepercayaan diri untuk menerima tekanan di dekat gawangnya sendiri. Begitu pula dengan penyerangnya yang harus mampu menjepit bek tengah dan menahan bola dengan membelakangi gawang.
Begitu timnya sudah melaju ke lini pertahanan lawan, De Zerbi ingin para pemainnya menempati setiap ruang di antara dan di luar pemain di lini belakang lawan. Ini biasanya melibatkan lima pemain di lini depan, dengan rotasi lebar memberikan dukungan di area depan untuk penyerang tengah dan pemain bernomor punggung 10. Dengan tim De Zerbi mendominasi bola untuk waktu yang lama, lawan sering kali berusaha melakukan blok yang lebih dalam, jadi permainan menyerang timnya seringkali membutuhkan kombinasi yang rumit di ruang sempit. Timnya hanya benar-benar menyerang dengan kecepatan ketika mereka berhasil menarik lawan dan berhasil mematahkan tekanan mereka, atau setelah bangkit kembali melalui serangan balik .
Pivot ganda menopang bagian bawah bola, mengambil posisi yang memungkinkan mereka menutupi area yang luas dan memungkinkan bek sayap untuk maju. Serangan memanfaatkan gerakan overlapping dan underlapping, dengan pemain sayap De Zerbi mampu melakukan umpan silang atau memotong ke dalam sebelum menargetkan tiang jauh dengan umpan silang ke dalam atau menembak langsung ke gawang. Dia cenderung memainkan peran flank/sayap dengan pemain yang mengisi posisi tersebut tidak dengan kaki terkuatnya. Misal Kaoru Mitoma yang aslinya seorang pemain sayap kanan namun diplot di posisi kiri untuk memainkan strategi menusuk masuk dan menembak langsung dengan kaki terkuatnya saat membidik tiang gawang. Demikian juga dengan Solly March yang bagus dengan tembakan kaki kiri namun didorong untuk beroperasi melebar di kanan untuk memainkan strategi inverted winger. Kedua pemain sayap ini sudah diberi instruksi memberikan ancaman langsung terhadap gawang, dan akan berpindah mengancam ke kotak penalti ketika permainan dibangun di sayap yang berlawanan.
Artinya area sekitar kotak penalti selalu terisi, memberikan dukungan kepada peran nomor 9 dan nomor 10, dan menawarkan potensi kombinasi dekat untuk menerobos lini terakhir lawan. Hal ini juga memberi potensi bagi tim untuk membebani bek tengah lawan di dekat gawang. Dengan pertahanan yang semakin menyempit untuk mengimbangi jumlah pemain yang dimiliki tim De Zerbi di lini tengah, ruang muncul bagi full-back yang melakukan overlap di sisi sayap. Ketika seorang pemain sayap tetap melebar – dan dengan melakukan hal tersebut menarik bek sayap lawan menjauh dari bek tengah – bek sayap De Zerbi didorong untuk melakukan gerakan underlapping ke dalam ruang antara bek sayap lawan dan bek tengah.

Dengan poros ganda yang tersisa dan banyak pemain yang berkomitmen untuk menyerang, tim asuhan De Zerbi secara agresif melakukan serangan balik di ruang tengah ketika mereka kehilangan bola.
Pivot ganda pada dasarnya adalah tirai pertahanan, fungsinya membayangi sisi pertahanan dan biasanya hanya diisi oleh seorang DM (Defensif Mildfielder). Tapi dalam strategi permainan De Zerbi perannya dibantu oleh seorang CM (Central Midfielder) yang diatur bergerak ke posisi secara bersama, sehingga dengan dua bek tengah membentuk sebuah “box/kotak”. Keuntungannya adalah lawan sulit mengetahui siapa yang mengatur tempo permainan, apakah DM atau CM. Dalam sepakbola modern yang terus berkembang peran Libero disulap menjadi seorang DM yang berfungsi juga mengendalikan permainan (deep laying playmaker).
Jadi setiap kali gelandang tengah lawan turun, salah satu dari poros ganda ini bebas untuk mengikuti. Para bek sayap juga diharapkan langsung melesat ke depan untuk melakukan tekanan melebar. Sementara dua pemain depan, nomor 9 dan nomor10 ikut turun membentuk pivot ganda berikutnya sehingga DM dan bek lawan terpancing melakukan pressing dan meninggalkan ruang kosong.
Lalu bagaimana jika keduanya, DM dan CM tim De Zerbi saat melakukan build-up dijaga ketat oleh lawan? itulah peran yang diambil oleh nomor 9 dan nomor 10 saat membentuk pivot ganda tambahan. Saat bek lawan terpancing naik untuk menjaga, mereka justru akan turun membantu lini pertahanan yang sedang build-up dengan menjadi wallpass sehingga bola bergerak cepat ke sisi luar dan penjaganya tertinggal dan membuat celah.

“Sejauh ini dia (dan tim) berkembang semakin baik, jika Anda tidak bermain dengan level yang tinggi dia dapat melakukan apa pun yang kamu inginkan dan balik melawanmu dan mereka sangat layak mendapatkan kesuksesan,” kata Guardiola.
Sebelum menangani Brighton, De Zerbi dengan sistem permainan “double pivot”nya juga sukses mengangkat nama Sassuolo di Serie A Italia serta Shakhtar Donetsk Ukraina di Liga Champions. (*/GHP)














