Penglipuran Dinobatkan sebagai Salah Desa Wisata Terbaik
Madrid – Desa Penglipuran, Kamis (19/10) lalu telah dinobatkan oleh Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) sebagai salah satu Desa Wisata terbaik tahun 2023 ini. Ini merupakan sebuah prestasi bagi pariwisata nusantara, dan menjadi motivasi bagi daerah lainnya untuk berbenah dan memberi yang terbaik sehingga dikenal dunia internasional.
Pengakuan Desa Penglipuran sebagai desa wisata terbaik sebenarnya telah dimulai pada 2021, saat UNWTO menunjuk desa di daerah Bali ini sebagai desa percontohan yang mampu mengembangkan wisata, memberdayakan masyarakat serta melestarikan tradisi.
Pada 2023 Organisasi Pariwisata Dunia yang bermarkas di Madrid, Spanyol itu telah mengumpulkan 260 kandidat desa percontohan dari 60 negara untuk dipilih sebagai desa wisata terbaik. Dari angka tersebut akhirnya diseleksi kembali untuk memantapkan kriteria hingga menjadi 54 desa, dan akhirnya Desa Penglipuran terpilih sebagai salah satu desa wisata terbaik.

Menurut situs UNWTO alasan desa ini dipilih menjadi desa wisata terbaik adalah sebagai berikut;
Desa Penglipuran adalah sebuah desa adat Bali yang terletak di Kecamatan Kubu, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia. Desa ini telah mendapatkan pengakuan atas komitmennya dalam mempertahankan arsitektur tradisional, adat istiadat, dan cara hidup. Masyarakat telah menerapkan berbagai langkah untuk melestarikan warisan budayanya sambil menerapkan praktik pariwisata yang bertanggung jawab.
Upaya-upaya ini bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara memungkinkan pengunjung untuk merasakan dan menghargai budaya desa yang unik dan memastikan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan setempat. Di era urbanisasi dan globalisasi yang pesat, mereka belajar bagaimana menyeimbangkan pembangunan modern sambil melestarikan esensi nilai-nilai dan adat istiadat tradisional Penglipuran. Namun komitmen Penglipuran terhadap keaslian lebih dari sekadar lingkungannya yang mempesona; itu meluas ke rakyatnya.
Desa ini telah mengembangkan jaringan pemandu lokal, penduduk setempat yang berbagi pengetahuan mereka yang kaya dan kisah-kisah menawan dengan pengunjung. Pendekatan holistik ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat tetapi juga membuka pintu terhadap pengalaman yang asli dan mendalam bagi wisatawan. Kelestarian lingkungan secara aktif dipromosikan dan dilestarikan melalui berbagai cara termasuk pengelolaan limbah, konservasi sumber daya alam, pariwisata berkelanjutan, pendidikan dan kesadaran.

Desa ini terkenal dengan arsitektur tradisional Bali yang terpelihara dengan baik dan telah mengambil langkah-langkah untuk menjaga keaslian bangunan dan rumahnya. Upaya pelestarian tersebut memungkinkan pengunjung untuk merasakan gaya arsitektur yang unik dan mengapresiasi warisan budaya desa. Ini mengikuti tata letak arsitektur yang unik dengan semua rumah sejajar dalam satu baris, dipisahkan oleh jalan sempit. Desain khusus ini menekankan nilai-nilai komunitas dan semangat kolektif desa.
“Ini akan menjadi inspirasi bagi desa wisata lainnya di Indonesia untuk mengoptimalkan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan warisan budaya yang kita miliki,” puji Menparekraf, Sandiaga Uno.
Kemenparekraf berharap setelah Desa Penglipuran ada tiga desa pilihan lainnya di Indonesia yang bisa dipersiapkan sebagai salah desa wisata terbaik untuk dimasukkan dalam daftar periode pemilihan berikutnya. (UNWTO/Antara/GHP)











