MTU News
Beranda Pembangunan BRIN Ungkap Potensi Besar Energi Surya Terapung di Indonesia

BRIN Ungkap Potensi Besar Energi Surya Terapung di Indonesia

Ilustrasi PLTS Tambak lorok Semarang/Dok. PLN

Jakarta – Pada tahun 2022, kebutuhan listrik di Indonesia telah mencapai 1.172 kWh/kapita dan akan terus naik seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan mencapai 5,3% di tahun 2023. Menurut laporan kementerian ESDM, level konsumsi tersebut naik sekitar 4% dibanding 2021 (year-on-year/yoy), sekaligus menjadi rekor tertinggi baru dalam lima dekade terakhir.

Untuk itu, diperlukan penambahan kapasitas pembangkit yang berasal dari energi baru terbarukan (EBT).

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung atau  floating photovoltaic untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

“Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki lautan luas sebenarnya bisa menempatkan lokasi itu untuk panel surya,” kata Periset Metalurgi BRIN Aga Ridhova dalam acara Kolokium Metalurgi, Jumat (27/10) kemarin.

Dikutip dari Antara, di Pulau Sumatra saja, potensi energi surya mencapai 48.000  terawatt hours (TWh) per tahun dengan potensi PLTS terapung sebanyak 94,7 persen, Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil punya potensi 11.500 TWh dengan potensi PLTS terapung 53,8 persen, dan Kalimantan memiliki potensi energi surya 29.400 TWh dengan potensi PLTS terapung sebesar 97,3 persen.

Kemudian, Sulawesi ada 50.200 TWh dengan potensi PLTS terapung mencapai 96,9 persen serta Maluku dan Papua yang memiliki potensi energi surya sebanyak 51.200 TWh dengan potensi PLTS terapung mencapai 99,7 persen.

“Potensi sel surya di Indonesia sangat besar tidak hanya bisa digunakan di daratan, tetapi juga floating photovoltaic yang lokasinya sangat strategis. Sekarang yang baru digunakan baru ada satu lokasi, yaitu Waduk Cirata di Jawa Barat,” ujar Aga.

Permintaan energi di Indonesia saat ini sekitar 300 TWh. Sedangkan, permintaan energi diperkirakan bisa mencapai angka 9.000 TWh pada tahun 2050.

Aga menyampaikan bila Indonesia hanya mengandalkan pembangkit listrik tenaga batu bara saja yang sumber dayanya terbatas dan tidak bisa dibuat kembali, maka pemenuhan kebutuhan energi Indonesia di masa depan dapat menghadapi tantangan berat.

“Kita membutuhkan energi baru terbarukan yang bisa terus ada dan dimanfaatkan secara berkepanjangan, salah satunya air, gelombang laut, angin, biomassa, ataupun panas bumi yang bisa mencapai 1.240 TWh. Sementara kalau kita bandingkan dengan potensi floating photovoltaic  bisa mencapai ratusan ribu  terawatt hours kalau dimanfaatkan secara baik,” pungkasnya.

Energi baru terbarukan (EBT) atau renewable energy menjadi model pembangunan sumber daya energi di masa depan karena selain ramah lingkungan, juga bersih emisi dan lebih murah ketimbang bahan bakar yang lain, yakni gas dan minyak. 

Daerah-daerah  di Indonesia sendiri sangat kaya untuk transisi energi sehingga diperlukan Pilot Project pada tiap daerah sebagai percontohan, terutama daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Jika RUU EBT yang nantinya akan disahkan, diharapkan itu bisa membantu stakeholder dalam mewujudkan transisi energi di tiap daerah. 

Saat ini pembangkit listrik berbahan bakar batu bara masih mendominasi suplai energi listrik di Indonesia sedangkan pembangkit listrik EBT mengambil porsi 14,69% dari total kapasitas pembangkit listrik terpasang nasional. (*/GHP)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan