Dorong Konsep Laga Kandang-Tandang di 2024, IBL Ingin Bangun Basis Fans yang Kuat
Jakarta – Indonesian Basketball League (IBL) kembali melakukan terobosan. Liga basket tertinggi Tanah Air ini menjalin kerjasama melalui Memorandum of Understanding (MoU) dengan B. League yang merupakan liga basket tertinggi di Jepang.
Kerjasama dengan liga basket profesional Jepang tersebut resmi terjalin, Selasa (5/12). Proses penandatangan MoU dilakukan Direktur Utama IBL, Junas Miradiarsyah, dengan Chariman of BLG, Shinji Shimada di 100, Atlet Century, Jakarta.
MoU yang terjalin meliputi berbagai hal. Satu di antaranya adalah pengelolaan pertandingan home and away yang mulai diterapkan IBL pada musim 2024.

B. League sendiri telah menjalankan format tersebut lebih dari tujuh tahun dan menjadi salah satu liga yang sukses di Asia. Karakter Jepang juga memiliki beberapa persamaan dengan Indonesia, seperti tingkat popularitas olahraga bolabasket di masing-masing negara.
“Dengan pengalaman yang sudah dimiliki kami percaya betapa profesionalnya B. League dalam mengelola sebuah liga dan pentingnya memajukan industri dengan model bisnis yang tepat,” ujar Junas.
“B. League juga terbukti berhasil membantu setiap klub membangun fan basenya masing-masing dan potensi perolehan pendapatan. Pertukaran ilmu ini yang kami harap bisa meningkatkan profesionalitas IBL ke depan,” imbuhnya.
Junas Miradiarsyah menyebut laga kandang dan tandang yang akan menjadi konsep kompetisi IBL musim depan merupakan pemicu untuk pengembangan industri olahraga bola basket di Indonesia. Profesional muda yang besar di Mahaka Grup itu menyebutkan bahwa prinsip format laga kandang dan tandang yang akan pertama kali diterapkan pada IBL 2024 menuntut tiap klub untuk mengembangkan basis penggemar.

Dengan adanya laga kandang dan tandang, setiap klub yang menggelar pertandingan di markasnya sendiri harus kreatif agar bisa mengundang sebanyak-banyaknya penggemar. Para penggemar itulah yang akan memberikan dukungan kepada tim kesayangannya lewat pembelian tiket pertandingan maupun merchandise klub.
“Sebagai tim penting untuk meraih prestasi, tapi untuk membangun tim yang bisa sustain, bisnis itu kuncinya,” kata Junas
B. League bukan hal asing bagi pecinta basket Indonesia. Sebelumnya, dua punggawa tim nasional basket Indonesia, Abraham Damar Grahita dan Brandon Van Dorn Jawato, sempat mencicipi ketatnya basket di Negeri Sakura tersebut. Adapun MoU antara IBL dengan B. League memiliki tiga pilar kesepakatan yakni meningkatkan profesionalitas liga serta manajemen klub, kemudian peningkatan minat usia muda, lalu kerjasama promosi antara Jepang dengan Indonesia melalui basket.
“Kami sangat percaya dengan potensi yang dimiliki IBL dalam mengelola basket di Indonesia. Sebuah kehormatan bagi kami bisa menjalin kerjasama dengan kompetisi basket yang tengah berkembang pesat ini,” ujar Chariman of BLG, Shinji Shimada. “Di musim depan, IBL akan menyajikan format baru yang bisa meningkatkan antusiasme penggemar. Kami berharap, industri basket di negeri ini bisa mencapai puncaknya.”

Dirut IBL menyebut klub-klub basket Tanah Air harus meniru apa yang dilakukan tim basket Jepang dengan membuat basis data para penggemar. Hingga saat ini, Junas meyakini klub basket Indonesia sudah banyak yang menjaring para penggemar lebih banyak lagi, namun belum ada yang mendata fansnya dan dijadikan basis data untuk dikembangkan kemudian
“Di B.League itu sponsor nomor satu, tiket, baru tv right. Bagaimana meningkatkan pendapatan dari sponsor? Kuncinya dari fans, bangun basis fans, lakukan kegiatan marketing,” terang Junas.
Adanya laga kandang dan tandang, maka setiap klub yang menggelar pertandingan di markasnya sendiri harus kreatif agar bisa mengundang sebanyak-banyaknya penggemar. Para penggemar itulah yang nantinya akan memberikan dukungan kepada tim kesayangannya lewat pembelian tiket pertandingan maupun merchandise klub.
Dengan begitu, klub basket akan lebih stabil dari sisi pendapatan dan bisa berkelanjutan mengikuti kompetisi dalam jangka waktu yang panjang. (*pr/GHP)












