MTU News
Beranda Ekonomi & Bisnis BRICS tambah Anggota Baru, China Optimis

BRICS tambah Anggota Baru, China Optimis

Ilustrasi / ist

Beijing – Awal tahun ini BRICS, platform utama untuk pasar negara berkembang yang dibangun Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, kedatangan anggota baru.

Ada Arab Saudi yang memilih merapat ke kelompok Cina dan Rusia, sementara Mesir, Iran, Uni Emirat Arab (UEA), dan Etiopia kini melengkapi total anggota BRICS menjadi 10 negara.

BRICS merupakan akronim dari negara-negara pendirinya dan bersikeras bahwa kelompok ini akan menjadi sebuah kekuatan perubahan dimana mereka menempatan diri sebagai juru bicara untuk negara-negara berkembang.

Tiongkok pada hari Selasa (02/01) waktu setempat mengatakan BRICS adalah kekuatan yang “positif” dan “stabil” dalam urusan internasional dan Beijing “yakin” akan masa depan blok tersebut.

“Sejak dimulai 18 tahun lalu, mekanisme kerja sama BRICS – pertama terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, dengan lima anggota baru per 1 Januari, Mesir, Iran, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Ethiopia – telah “meningkatkan kekompakan dan pengaruh serta menjadi kekuatan positif dan stabil demi kebaikan dalam urusan internasional,” kata Wang Wenbin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

Pernyataan tersebut muncul sebagai tanggapan terhadap Argentina yang membatalkan rencana masuknya ke dalam blok multinasional tersebut sementara lima negara lainnya bergabung dengan BRICS pada hari Senin.

“Izinkan saya memperjelas bahwa kami sepenuhnya yakin akan masa depan BRICS,” kata Wang pada konferensi pers di Beijing.

Menekankan bahwa BRICS kini memiliki 10 anggota, Wang berkata: “Hal ini menunjukkan prospek cerahnya.” BRICS telah memilih untuk memperluas keanggotaannya sebagai tanggapan atas permintaan dari negara-negara terkait, sejalan dengan tren global menuju multipolaritas, tambahnya.

“Kami akan bekerja sama dengan mitra BRICS untuk mengupayakan hasil baru dalam kerja sama BRICS yang lebih besar,” tegas Wang.

Dengan keanggotaannya yang baru diperluas, BRICS mencakup lebih dari 40% populasi dunia dan lebih dari 30% produk domestik bruto (PDB) global. Argentina juga dijadwalkan bergabung dengan BRICS pada 1 Januari setelah menerima undangan pada bulan Agustus. Namun, Presiden baru terpilih Javier Milei mengumumkan pada hari Jumat bahwa negaranya tidak akan bergabung dengan blok tersebut, memenuhi janji kampanyenya untuk mengubah kebijakan luar negeri negaranya guna menjalin hubungan yang lebih erat dengan Barat.

Indonesia sendiri pada Agustus 2023 lalu mengatakan tidak akan terburu-buru untuk ikut dalam blok ekonomi ini, meski dipandang sebagai negara berkembang yang menurut beberapa perkiraan dapat masuk dalam lima negara dengan perekonomian terbesar di dunia pada pertengahan abad ini.

Namun RI adalah sebagai salah satu anggota pendiri Gerakan Non-Blok. Organisasi itu aktif menjaga netralitas selama Perang Dingin dengan menganut pendekatan luar negeri “bebas-aktif”, yang independen dan aktif, termasuk mengambil peran dalam menengahi perdamaian di seluruh dunia. (*/tje)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan