MTU News
Beranda Teknologi Waspadai Suar Matahari di Tahun 2024

Waspadai Suar Matahari di Tahun 2024

Suar Matahari X5/ ist

Beijing -Satelit surya komprehensif pertama Tiongkok, Advanced Space-based Solar Observatory (ASO-S) Kuafu-1, telah berhasil mencatat jilatan api matahari besar yang meletus dari matahari pada Senin (01/01) pagi, demikian ungkap Observatorium Purple Mountain dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok pada Rabu (03/01).

Suar Matahari yang memuncak pada Senin (1/1) pukul 05.55 Waktu Beijing atau pukul 04.55 WIB, diklasifikasikan sebagai suar X5.0, yang terkuat dalam lebih dari enam tahun. Kejadian di pusat tata surya itu juga mengakibatkan Lontaran massa korona terdeteksi secara bersamaan oleh satelit tersebut.

Suar Matahari adalah ledakan besar dari permukaan Matahari yang memancarkan semburan radiasi elektromagnetik yang sangat kuat, dan dapat berlangsung hanya dalam hitungan menit. NASA mengklasifikasikan jilatan api matahari berdasarkan kekuatannya, mirip dengan kategorisasi gempa bumi. Skala tersebut mencakup kelas B, kelas C, kelas M, dan kelas X, dengan setiap huruf mewakili peningkatan keluaran energi sepuluh kali lipat. Suar kelas X, yang melebihi 9, dapat menimbulkan dampak yang signifikan, seperti badai radiasi yang mempengaruhi satelit dan menyebabkan masalah transmisi global. Suar kelas X terkuat yang tercatat adalah X45 pada tahun 2003.

Suar dan letusan Matahari dapat berdampak pada komunikasi radio frekuensi tinggi, jaringan listrik, dan sinyal navigasi, serta menimbulkan risiko bagi pesawat luar angkasa dan astronaut.

Chen Anqin, kepala prakiraan cuaca di Pusat Nasional untuk Cuaca Luar Angkasa China, mengatakan bahwa dampak Suar Matahari terhadap Bumi akan sangat kecil. Namun, fenomena lain yang menyertai suar, seperti lontaran massa korona yang mencapai Bumi, dapat menyebabkan badai geomagnetik.

Tapi, Chen mengingatkan bahwa suar kelas X akan sering terjadi pada 2024.

Setiap 11 tahun, Matahari menyelesaikan siklus Matahari yang terdiri dari aktivitas tenang dan badai, lalu memulai siklus yang baru. Siklus Matahari saat ini, yang disebut Siklus Matahari 25, dimulai pada Desember 2019. Menurut Chen, dalam setiap siklus Matahari, ada sekitar 100 suar Matahari kelas X, dengan hampir 20 suar Matahari kelas X terjadi pada 2023 saja.

“Suar Matahari diperkirakan akan menjadi lebih sering terjadi pada 2024 saat Matahari naik ke puncak Siklus Matahari 25, yang dikenal sebagai maksimum Matahari,” ujar Chen.

Fenomena jilatan api besar yang lebih dikenal sebagai Suar Matahari itu secara masif terdeteksi di permukaan Matahari pada Malam Tahun Baru, mendorong pengamat luar angkasa mengeluarkan peringatan kepada pengguna radio frekuensi tinggi. Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa (SWPC) dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada hari yang sama merilis gambar suar yang tampak seperti titik terang di permukaan Matahari.

Suar Matahari kelas B atau C terlalu lemah dampaknya terasa oleh bumi, sedangkan Suar Matahari kelas M dapat menyebabkan pemadaman radio di kutub dan badai radiasi kecil.

Suar Matahari X5 yang terjadi baru-baru ini, meskipun lebih kecil dari rekor pada tahun 2003, merupakan yang terkuat sejak September 2017. Suar Matahari tersebut mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi sinyal radio frekuensi tinggi, menyebabkan degradasi atau kehilangan sementara di sisi Bumi yang diterangi matahari. Masyarakat umum tidak punya alasan untuk khawatir, namun SWPC memperingatkan bahwa pengelolaan panggilan keadaan darurat dapat mengalami gangguan. (cgtn/tje)


Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan