Enzim Penting Untuk Memecah Produk Sampingan Lemak guna Memperlambat Proses Penuaan
Virginia – Penuaan merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dihindari bagi banyak orang dan satu hal yang sering menyertai proses natural kehidupan tersebut adalah peningkatan akumulasi lemak tubuh.
Meskipun sebagian besar masyarakat tampaknya fokus pada estetika kelebihan berat badan, para dokter mengabaikan masalah kosmetik apa pun dan fokus pada implikasi kesehatan dari produk sampingan lemak dalam tubuh.
Asam lemak adalah salah satu bahan pembangun molekuler yang membentuk lemak. Meskipun penting untuk membangun berbagai fungsi tubuh, jumlah asam lemak yang berlebihan dalam tubuh dapat berbahaya, asam organik ini bisa memperpendek rentang kesehatan dan umur seseorang dengan meningkatkan risiko penyakit kronis, mengganggu proses metabolisme, dan memicu peradangan.

Asam lemak diperiksa secara rutin selama pemeriksaan kesehatan, seperti tes darah yang mengukur profil lipid seseorang. Namun para dokter dan peneliti sering mengabaikan komponen penting lain dari lemak meskipun memiliki efek yang berpotensi membahayakan: gliserol, senyawa yang menghubungkan asam lemak untuk membuat molekul lemak.
Kedua produk sampingan lemak ini mengganggu fungsi sel dan organ, sehingga mencerminkan efek penuaan. Faktanya, para peneliti kini semakin melihat obesitas sebagai katalisator percepatan penuaan.
Assc. Profesor (Lektor Kepala) Biologi dan Biologi Sel, Universitas Virginia, Eyleen Jorgelina O’Rourke, seorang ahli bidang genomik dan biokimia mengungkapkan bahwa dalam penelitian bersama rekan-rekannya, mengurangi produk sampingan lemak berbahaya dapat membantu memperlambat proses penuaan serta akibatnya mencegah penyakit umum.
“Saat mempelajari cara memperpanjang masa hidup dan meningkatkan kesehatan hewan laboratorium pada usia lanjut, saya dan rekan kerja melihat pola yang konsisten : Semua intervensi anti-penuaan yang kami uji menyebabkan penurunan kadar gliserol,” ungkap O’Rourke.

“Misalnya, ketika menjalani diet rendah kalori, nematoda Caenorhabditis elegans hidup sekitar 40 persen lebih lama . Kami menemukan bahwa kadar gliserol dalam tubuh cacing berumur panjang ini lebih rendah dibandingkan cacing berumur pendek yang tidak dibatasi makanannya. Pembatasan kalori juga meningkatkan aktivitas enzim yang bertanggung jawab untuk memecah gliserol, ADH-1, di usus dan otot mereka,” terangnya.
“Kami melihat tingkat aktivitas ADH-1 yang tinggi serupa pada orang yang menjalani pembatasan pola makan atau diobati dengan obat anti penuaan yang disebut rapamycin. Temuan ini menunjukkan mungkin ada mekanisme umum yang mendasari penuaan yang sehat di seluruh spesies, dengan ADH-1 sebagai intinya,” lanjut O’Rourke.
Menurut Eyleen O’Rourke peningkatan aktivitas ADH-1 meningkatkan kesehatan di usia tua dengan menurunkan kadar gliserol yang berbahaya.
Mendukung hipotesis tersebut O’Rourke dan rekannya menyajikan dua pengamatan kritis . Pertama, mereka menemukan bahwa menambahkan gliserol ke dalam makanan cacing memperpendek masa hidup organisme itu sebesar 30 persen . Sebaliknya, hewan yang dimodifikasi secara genetis untuk meningkatkan kadar enzim penghancur gliserol ADH-1 memiliki kadar gliserol yang rendah dan tetap ramping serta sehat dengan umur yang lebih panjang, bahkan dengan pola makan yang tidak dibatasi.

“Struktur molekul yang sederhana dan kekayaan penelitian tentang ADH-1 menjadikannya target yang menarik untuk mengembangkan obat yang meningkatkan aktivitasnya,” kata O’Rourke. “Tujuan jangka panjang laboratorium saya adalah untuk mengeksplorasi bagaimana senyawa yang mengaktifkan ADH-1 mempengaruhi kesehatan dan umur panjang tikus dan manusia,” jelasnya.
Penelitian anti-penuaan menimbulkan kegembiraan dan perdebatan. Di satu sisi, manfaat penuaan yang sehat sudah jelas. Di sisi lain, memperpanjang masa hidup melalui penuaan yang lebih sehat kemungkinan besar akan menimbulkan tantangan sosial baru.
Jika rentang hidup hingga 120 tahun menjadi hal yang biasa, struktur sosial , termasuk usia pensiun dan model ekonomi, perlu berevolusi untuk mengakomodasi populasi yang menua. Kerangka hukum dan sosial mengenai perawatan lansia dan keluarga mungkin juga perlu direvisi.
Kehidupan yang lebih panjang akan mengharuskan masyarakat untuk memikirkan kembali dan membentuk kembali cara kita mengintegrasikan dan mendukung populasi lansia yang semakin meningkat di komunitas kita.

Baik melalui ADH-1 atau penyesuaian pola makan, pencarian solusi penuaan yang sehat bukan hanya sebuah perjalanan medis tetapi juga perjalanan sosial, demikian kesimpulan penutup dari makalah penelitian O’Rourke.
(Disadur dari The Conversation/ tje)













