Sinergi ini merupakan langkah BUMN untuk mempercepat transisi energi baru terbarukan (EBT) guna mencapai target Net Zero Emission pada 2060. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Joint Development Study Agreement antara PLN Indonesia Power dan Pertamina Geothermal pada ajang Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) Ke-10 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan.
Presiden Joko Widodo, dalam sambutannya, menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen untuk menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi hijau dan transisi menuju energi hijau. “Negara kita berkomitmen menjadi bagian dari langkah dunia dalam membangun ekonomi dan industri hijau,” kata Jokowi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas listrik sebesar 93 GW, di mana 13,7 GW berasal dari EBT. Dari total tersebut, 2,6 GW merupakan kapasitas pembangkit listrik panas bumi, menjadikan Indonesia sebagai produsen terbesar kedua di dunia.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Edwin Nugraha Putra, menegaskan bahwa kerja sama dengan Pertamina Geothermal Energy ini merupakan langkah strategis untuk memaksimalkan potensi panas bumi di Indonesia. Proyek ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian target energi nasional dan mendukung program Net Zero Emission.
Proyek-proyek PLTP yang sedang dikembangkan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas listrik nasional tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dengan memanfaatkan energi rendah emisi. (Red)