Sepanjang pekan pertama November, harga CPO telah meningkat 6 persen. Dalam satu bulan terakhir, lonjakan harga mencapai 16 persen, sedangkan sepanjang tahun 2024, CPO sudah mengalami kenaikan total 32 persen. Peningkatan harga ini juga didorong oleh lonjakan harga minyak saingan di pasar Dalian dan Chicago Board of Trade (CBoT), serta harga minyak mentah yang terdorong akibat ketegangan di Timur Tengah.
Trading Economics melaporkan performa ekspor CPO yang solid, dengan data survei kargo menunjukkan kenaikan ekspor minyak sawit Malaysia sebesar 11,5 persen sepanjang Oktober. Senior Analyst Fastmarket Palm Oil Analytics, Sathia Varqa, menyebut lonjakan ini ditopang oleh harga minyak nabati lain di pasar Dalian dan data ekspor yang menjanjikan di bulan Oktober.
“Ekspor bulan Oktober diperkirakan naik 13 persen, dan pelemahan ringgit turut memperkuat harga CPO,” ujar Sathia kepada Bernama.
Namun, kenaikan ini mungkin tidak akan bertahan lama, karena dipengaruhi oleh penguatan ringgit serta berkurangnya permintaan dari India. Di sisi lain, Indonesia menaikkan harga referensi CPO untuk November menjadi 961,97 Dolar AS per ton dari sebelumnya 893,64 Dolar AS pada Oktober, yang mengakibatkan peningkatan pajak ekspor menjadi 124 Dolar AS. Langkah ini diperkirakan akan memperketat pasokan minyak nabati di pasar internasional. (Red)