Menurut keterangan Kasi Humas Polres Taput, Aiptu Walpon Baringbing, banjir bandang di Pahae Jae dipicu oleh meluapnya Sungai Sarulla akibat debit air yang meningkat secara tiba-tiba. “Air dari pegunungan melintasi Sungai Sarulla tiba-tiba membesar. Sungai tidak mampu menampung debit air sehingga meluap ke permukiman warga dan menggenangi sepanjang jalan sejauh 300 meter,” ujar Walpon pada Senin (30/12/2024).
Selain air yang meluap, banjir bandang juga membawa material berupa kayu besar dari pegunungan yang menyumbat saluran air di bawah Jembatan Sarulla. Hal ini memperparah dampak banjir dan membuat proses evakuasi lebih sulit.
Di lokasi kedua, jalan menuju Wisata Rohani Salib Kasih di Desa Simorangkir Julu juga mengalami banjir bandang, yang menyebabkan jalan tertutup material lumpur dan bebatuan. Akses menuju destinasi wisata tersebut sempat terhenti selama beberapa jam.

Walaupun tidak ada korban jiwa, banjir ini menyebabkan kerusakan pada tiga rumah warga di Kelurahan Pasar Sarulla. Ketiga rumah tersebut milik JH (50), JH (58), dan SM (68), yang mengalami kerusakan akibat benturan bebatuan yang terbawa arus.
Proses penanganan banjir dilakukan secara cepat oleh tim gabungan yang terdiri dari kepolisian, TNI, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Utara, dipimpin langsung oleh Kapolres Taput dan Penjabat Bupati. Alat berat dari pemerintah daerah dikerahkan untuk membersihkan material banjir dari jalan dan pemukiman warga.
“Pada Minggu malam pukul 22.30 WIB, banjir mulai surut. Dengan menggunakan alat berat, jalan yang sebelumnya tertutup lumpur berhasil dibersihkan, sehingga arus lalu lintas kembali normal pada Senin pagi,” lanjut Aiptu Walpon.

Saat ini, kondisi di kedua titik sudah terkendali. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan mengingat curah hujan yang masih tinggi di wilayah Tapanuli Utara. “Untuk saat ini, kendaraan sudah bisa melintasi kedua lokasi tersebut dengan lancar,” pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga ekosistem hutan di daerah pegunungan guna mencegah banjir bandang serupa di masa mendatang. Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat mitigasi bencana untuk mengurangi risiko yang dialami warga. (red-jufri panjaitan)