Kepala BNPT: Dialog Kebangsaan Krusial untuk Persatuan
JAKARTA || MTUNews.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal Polisi Eddy Hartono, menegaskan bahwa dialog kebangsaan merupakan sarana strategis dalam memperkuat persatuan dan ketahanan nasional. Menurutnya, ancaman paham radikal terorisme masih nyata dan dapat mengganggu stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Paham radikal terorisme masih menjadi ancaman bagi persatuan dan perdamaian. Oleh karena itu, masyarakat harus terus diberikan edukasi dan literasi mengenai bahaya ideologi kekerasan ini,” ujar Eddy dalam acara Dialog Kebangsaan dalam Rangka Memperkuat Persaudaraan untuk Menjaga Bangsa di Pekanbaru, Riau, Rabu (26/3). Pernyataan tersebut juga dikonfirmasi di Jakarta pada Kamis (27/3).
BNPT bersama Komisi XIII DPR RI terus memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan ketahanan masyarakat melalui edukasi dan literasi terhadap bahaya radikalisme. Komisi XIII DPR RI sendiri memiliki kewenangan dalam menangani isu-isu strategis, termasuk Hak Asasi Manusia (HAM), keimigrasian, pemasyarakatan, dan penanggulangan terorisme.

Sejarah Ancaman Terorisme di Indonesia
Dalam paparannya, Eddy menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menghadapi ancaman terorisme yang telah terjadi sejak tiga era pemerintahan, yakni Orde Lama, Orde Baru, dan Reformasi.
Pada era Orde Lama, ancaman terorisme muncul dalam bentuk pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Sementara itu, di era Orde Baru, kelompok-kelompok sisa dari DI/TII bermetamorfosis menjadi gerakan baru, yang kemudian ditangani dengan pendekatan intelijen melalui Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional tingkat Daerah (Bakorstanasda).
Memasuki era Reformasi, aksi terorisme kembali mencuat dengan sejumlah aksi pengeboman besar, seperti Bom Malam Natal (2000), Bom Bali I (2002), dan Bom Bali II (2005). Saat itu, pemerintah sempat mengalami keterkejutan sehingga membentuk Desk Terorisme di bawah koordinasi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam). Seiring berjalannya waktu, pendekatan terhadap ancaman terorisme semakin berkembang melalui operasi penegakan hukum yang terus dilakukan hingga saat ini.
Program BNPT dalam Pencegahan Terorisme
Sebagai bagian dari strategi nasional, BNPT menjalankan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ekstremisme (RAN-PE) berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme. Program ini juga selaras dengan Astacita yang menjadi prioritas Presiden RI Prabowo Subianto dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Eddy menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap penyebaran paham radikal, yang sering kali berakar dari intoleransi.
“Masyarakat harus terus menjaga budaya toleransi antaragama dan antar-suku. Jika intoleransi dibiarkan, maka dapat berkembang menjadi radikalisme yang berujung pada aksi terorisme,” ujarnya.
Pentingnya Dialog Kebangsaan dalam Memperkuat Persatuan
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, menekankan bahwa momentum Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk berdiskusi mengenai persatuan dan kebangsaan.
“Bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali bagaimana Indonesia hadir sebagai sebuah bangsa yang dibangun atas dasar persaudaraan dan kebangsaan,” kata Willy.

Ia menambahkan bahwa dalam memerangi terorisme dan memperkuat persaudaraan, pendekatan seminar dan pembelajaran kognitif saja tidak cukup. Diperlukan ruang dialog yang melibatkan berbagai elemen masyarakat serta tindakan nyata dalam memperkuat kebangsaan.
Acara Dialog Kebangsaan dalam Rangka Memperkuat Persaudaraan untuk Menjaga Bangsa ini dihadiri oleh 240 peserta dari berbagai kalangan, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, partai politik, serta mahasiswa.
Dialog Kebangsaan merupakan inisiatif BNPT yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai kebangsaan serta memperkuat persatuan dan kesatuan nasional dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk ancaman terorisme. (red-msitompul)













