Kombes Retno, Pahlawan di Balik Penyelamatan 600 WNI
JAKARTA || MTUNews.com – Atase Polri di Manila, Kombes Retno Prihawati, menjadi sosok kunci dalam penyelamatan lebih dari 600 warga negara Indonesia (WNI) korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Filipina. Sejak bertugas pada Maret 2023, Retno bergerak cepat mengoordinasikan laporan korban ke otoritas Filipina, Bareskrim, serta Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri.
Salah satu korban berinisial R bahkan mengusulkan nama Retno sebagai kandidat Hoegeng Awards 2025 melalui laman resmi Detikcom, mengapresiasi ketulusan dan kegigihan Retno dalam melindungi WNI di Manila.
“Sosok Ibu Retno luar biasa. Pagi, siang, malam, beliau memastikan keamanan kami. Kepeduliannya tidak hanya omongan, tapi benar-benar dibuktikan dengan tindakan nyata,” tulis R dalam testimoni yang dikirim, Selasa (12/3/2025).

R yang sempat dijanjikan bekerja sebagai tenaga pemasaran properti di Hong Tai, Filipina, mengaku justru dipaksa menjadi scammer. Ia bertemu Kombes Retno setelah penggerebekan kamp sindikat oleh otoritas Filipina, dan sejak itu merasakan perhatian intens dari Retno hingga akhirnya berhasil pulang ke Indonesia pada September 2023.
“Beliau tegas, cepat tanggap, dan sangat manusiawi. Apa yang dijanjikan, selalu ditepati. Kebutuhan sehari-hari kami pun dipastikan terpenuhi,” kenang R.
Dalam keterangannya kepada detikcom, Kombes Retno menyebutkan mayoritas korban adalah pekerja paksa di sindikat judi online. Mereka dijerat dengan iming-iming gaji tinggi melalui media sosial, lalu sesampainya di Filipina, ponsel disita dan dipaksa menjalani pelatihan penipuan daring.
“Mayoritas hanya lulusan SMP. Mereka dijanjikan gaji 18-21 juta rupiah, tapi kenyataannya dijadikan scammer ilegal. Ada yang disiksa, dipaksa, bahkan dijadikan korban pencucian uang,” ujar Retno.

Salah satu operasi besar yang dijalankan Retno adalah penggerebekan Sun Valley Hub di Pampanga, yang membebaskan 246 WNI dari 1.700 pekerja ilegal. Dalam kasus lain di Las Pinas, ia membantu 134 WNI, termasuk seorang anak perempuan berusia 17 tahun, setelah otoritas Filipina menggerebek kamp berisi 2.700 pekerja scam.
Meski tantangan berat, Retno memastikan bantuan logistik seperti makanan, air, dan obat-obatan tetap tersedia bagi para korban sambil menunggu proses hukum Filipina selesai.
“Pengalaman ini tidak mudah, tapi keselamatan WNI adalah prioritas utama,” tegas Retno. (red-win)











