Netanyahu Menang Pemilu, Pakar Ungkap 3 Skenario Politiknya
MTUNews.com – INTERNASIONAL – Kemenangan Benjamin Netanyahu dalam Pemilu Israel pada 27 Oktober 2026 belum menjadi jaminan bagi dirinya untuk kembali memimpin pemerintahan. Meski Partai Likud tampil sebagai kekuatan terbesar, koalisi pendukung Netanyahu belum berhasil mengamankan mayoritas kursi di parlemen atau Knesset.
Berdasarkan hasil pemilu yang diberitakan, blok pendukung Netanyahu memperoleh 53 dari total 120 kursi parlemen. Perolehan tersebut masih terpaut delapan kursi dari ambang batas mayoritas, yakni 61 kursi, yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa kemenangan dalam pemilu tidak serta-merta menjamin seorang pemimpin dapat mempertahankan kekuasaan. Netanyahu masih harus melakukan negosiasi politik dengan partai-partai lain untuk memperoleh dukungan tambahan sekaligus membangun koalisi pemerintahan.

Pakar komunikasi Rommy Fibri Hardiyanto menilai hasil pemilu tersebut menunjukkan paradoks politik Israel. Di satu sisi, Netanyahu masih memiliki pengaruh politik yang kuat. Namun, di sisi lain, dukungan parlemen yang dimilikinya belum mencukupi untuk memastikan keberlanjutan pemerintahannya.
Menurut Rommy, dominasi seorang pemimpin dalam kontestasi pemilu tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuannya membentuk pemerintahan yang stabil.
Ia menjelaskan, dalam sistem parlementer Israel, kemenangan pemilu harus diterjemahkan melalui kesepakatan politik antarkekuatan partai. Karena itu, Netanyahu tetap membutuhkan dukungan tambahan agar dapat memenuhi persyaratan mayoritas di Knesset.
Rommy juga mengaitkan dinamika tersebut dengan teori sistem sosial Niklas Luhmann. Dalam perspektif teori ini, politik merupakan proses komunikasi yang melibatkan berbagai kepentingan untuk menghasilkan keputusan bersama. Dengan demikian, hasil pemilu bukanlah akhir dari persaingan politik, melainkan awal dari proses negosiasi untuk menentukan arah pemerintahan.

Situasi politik Israel juga dipengaruhi sejumlah persoalan, mulai dari polarisasi masyarakat, kepentingan koalisi, keamanan nasional, hingga tuntutan akuntabilitas pemerintahan.
Rommy turut merujuk penelitian Pew Research Center pada 2024 yang mencatat 41 persen responden Israel memiliki pandangan positif terhadap Netanyahu, sedangkan 58 persen lainnya berpandangan negatif. Data tersebut bukan hasil pengukuran opini publik pada Pemilu 2026, tetapi memberikan gambaran mengenai perbedaan pandangan masyarakat terhadap sosok Netanyahu.
Tiga Skenario Masa Depan Politik Netanyahu
Rommy mengidentifikasi tiga kemungkinan yang dapat terjadi setelah hasil pemilu, yakni Netanyahu berhasil membentuk koalisi pemerintahan, kelompok oposisi membangun pemerintahan alternatif, atau Israel kembali menggelar pemilu apabila kebuntuan politik tidak dapat diatasi.

1. Netanyahu Berhasil Membentuk Koalisi
Skenario pertama adalah Netanyahu memperoleh tambahan dukungan sedikitnya delapan kursi dari partai-partai di luar blok pendukungnya. Jika berhasil, ia berpeluang mengamankan mayoritas parlemen dan kembali membentuk pemerintahan.
Namun, langkah tersebut tidak mudah. Netanyahu harus bersedia melakukan kompromi politik dengan partai-partai lain, terutama terkait kebijakan keamanan, hubungan agama dan negara, serta persoalan hukum dan kelembagaan.
2. Oposisi Membentuk Pemerintahan Alternatif

Kemungkinan kedua adalah partai-partai oposisi berupaya menyatukan kekuatan untuk membentuk pemerintahan alternatif.
Secara matematis, gabungan partai oposisi dengan partai-partai Arab berpotensi memperoleh dukungan mayoritas di parlemen. Akan tetapi, perbedaan ideologi, identitas politik, serta orientasi kebijakan dapat menjadi hambatan dalam membangun kesepakatan.
Karena itu, keberhasilan skenario ini sangat bergantung pada kemampuan masing-masing kelompok untuk mengesampingkan perbedaan dan menyepakati agenda pemerintahan bersama.
3. Israel Kembali Menggelar Pemilu

Skenario ketiga adalah penyelenggaraan pemilu ulang apabila Netanyahu maupun kelompok oposisi sama-sama gagal membentuk pemerintahan dengan dukungan mayoritas parlemen.
Menurut Rommy, pemilu ulang tidak selalu menjadi solusi untuk mengakhiri kebuntuan politik. Apabila komposisi kekuatan partai di parlemen tidak mengalami perubahan signifikan, persoalan pembentukan koalisi berpotensi kembali terulang.
Negosiasi Koalisi Menjadi Penentu
Rommy menilai proses negosiasi koalisi merupakan salah satu tahapan penting yang akan menentukan arah politik Israel setelah pemilu. Posisi Likud sebagai partai dengan perolehan kursi terbesar masih memberikan keuntungan politik bagi Netanyahu dalam proses tersebut.

Meski demikian, keberhasilan membentuk pemerintahan belum tentu menjamin stabilitas politik dalam jangka panjang. Ketahanan koalisi, independensi lembaga peradilan, kebebasan media, serta efektivitas pengawasan terhadap pemerintah tetap menjadi faktor penting.
Selain dinamika internal, hubungan Israel dengan Amerika Serikat dan perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah juga berpotensi memengaruhi situasi politik domestik. Namun, dukungan dari Washington tidak secara otomatis menyelesaikan persoalan kekurangan suara di parlemen.
Dengan demikian, masa depan politik Netanyahu tidak hanya ditentukan oleh kemenangan Partai Likud, tetapi juga oleh kemampuannya membangun kesepakatan dengan partai-partai lain.
Hasil pemilu tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kemenangan elektoral dan kemampuan membentuk pemerintahan merupakan dua hal berbeda. Netanyahu masih memiliki peluang untuk kembali berkuasa, tetapi kepastian politiknya bergantung pada keberhasilan memperoleh dukungan mayoritas di Knesset. (Red-SJS)

#Netanyahu #PemiluIsrael #PolitikIsrael #Knesset #TimurTengah #BeritaInternasional #MTUNews
Sumber: Kompas.com

















