Bahlil Minta Bijak Soal Isu Pencemaran Raja Ampat
JAKARTA || MTUNews.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa kawasan Pulau Piaynemo dan Pulau Gag di Raja Ampat telah tercemar, sebagaimana ramai diberitakan di media sosial. Hal ini disampaikan Bahlil dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/6), sambil menunjukkan sejumlah foto kerusakan hutan yang ia bantah dengan label “HOAX”.
“Ini gambar-gambar terakhir Piaynemo. Tolong kita semua hati-hati dalam menyikapi informasi. Harus bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak,” ujar Bahlil.
Menanggapi isu pencemaran akibat aktivitas pertambangan, Bahlil mengatakan ia langsung meninjau lokasi dengan pantauan udara. Hasilnya, ia memastikan bahwa kondisi lingkungan Pulau Piaynemo dan Pulau Gag tetap terjaga. Menurutnya, tidak ada kerusakan terumbu karang atau pencemaran laut seperti yang ditudingkan.

Dalam peninjauan ke Pulau Gag, Bahlil juga menyampaikan bahwa satu-satunya perusahaan tambang yang beroperasi di pulau tersebut adalah PT GAG Nikel. Dari total luas pulau 13.136 hektare, hanya 260 hektare yang dibuka untuk tambang, dengan 130 hektare di antaranya telah direklamasi.
PT GAG Nikel, jelas Bahlil, telah beroperasi sesuai ketentuan amdal dan memegang kontrak karya sejak 1998. Selain itu, berdasarkan aspirasi masyarakat lokal dan pemerintah daerah, pemerintah pusat telah mencabut empat Izin Usaha Pertambangan (IUP) lain di luar Pulau Gag, yaitu milik PT Nurham, PT Anugrah Surya Pertama, PT Kawei Sejahtera Mining, dan PT Mulia Raymond Perkasa.
“Warga yang tinggal di Pulau Gag sekitar 700 orang dari 300 KK juga menyatakan tidak ada dampak negatif dari aktivitas tambang,” tambah Bahlil.
Ia pun menegaskan agar seluruh pihak bersikap adil dan mengedepankan klarifikasi berbasis data, bukan semata opini atau narasi media sosial. (red-Samuel)










