MTU News
Beranda Internasional Kelaparan Gaza, Kegagalan Kemanusiaan

Kelaparan Gaza, Kegagalan Kemanusiaan

Foto: Seorang ibu menggendong anaknya yang menderita malnutrisi dan cerebral palsy di lokasi pengungsian warga Gaza, Palestina, Sabtu (25/7/2025). (ANTARA FOTO/Xinhua/Rizek Abdeljawad/Bar).

TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut kelaparan yang melanda Gaza sebagai bentuk “kegagalan kemanusiaan”. Ia menegaskan bahwa bencana tersebut bukanlah akibat faktor alam, melainkan “bencana buatan manusia” yang lahir dari blokade dan pembatasan bantuan pangan yang disengaja Israel. Kepala HAM PBB Volker Türk bahkan menyebut kondisi ini sebagai “akibat langsung dari tindakan Pemerintah Israel”, sementara Komisioner Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini menggambarkannya sebagai “kelaparan yang disengaja”.

Gaza kini dikategorikan dalam Fase 5 IPC—tingkat krisis tertinggi dalam klasifikasi ketahanan pangan dunia—yang ditandai dengan kelangkaan pangan ekstrem, kematian akibat kelaparan, serta runtuhnya mata pencaharian. Kondisi ini sejalan dengan laporan berbagai lembaga kemanusiaan yang menyatakan bahwa warga Gaza hidup dalam situasi putus asa: keluarga berhari-hari mencari makanan, orang tua rela tidak makan demi anak-anak mereka, bayi menangis kelaparan, dan air bersih nyaris mustahil didapatkan.

PBB menilai pengepungan Israel sejak Oktober 2023 hingga kini telah berubah menjadi bentuk hukuman kolektif yang melanggar hukum internasional. Pembatasan distribusi bantuan, penghancuran sumber pangan, dan penembakan terhadap warga di titik distribusi membuat kelaparan menjadi senjata perang. Sejak Mei 2025, hampir 1.000 warga Palestina tewas di sekitar lokasi pembagian bantuan.

Meski kecaman internasional terus menguat, tekanan diplomatik nyata untuk menghentikan blokade masih minim. Dunia internasional diminta segera membentuk koridor kemanusiaan yang aman dan menekan Israel melalui sanksi, embargo, maupun langkah hukum internasional. Tanpa tindakan tegas, kelaparan di Gaza akan terus menjadi simbol kelumpuhan politik global sekaligus noda hitam kemanusiaan modern. (red-win)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan