TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto, bersama Ibu Negara Ny. Tien Soeharto, tercatat pernah melakukan kunjungan bersejarah ke Pusat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Pearaja, tepatnya Seminarium – Sipoholon Kabupaten Tapanuli Utara, pada 19 Oktober 1986, dalam rangka peringatan Jubelium 125 Tahun HKBP. Dalam kunjungan bersejarah itu, pasangan Presiden dan Ibu Negara tampil anggun dan berwibawa dengan mengenakan pakaian adat Batak lengkap berupa ulos dan sortali, sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan tradisi masyarakat setempat.
Peristiwa yang terjadi 39 tahun silam itu meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Batak maupun bangsa Indonesia secara luas. Busana adat yang dikenakan Pak Harto dan Ibu Tien bukan hanya menambah khidmat perayaan gerejawi tersebut, tetapi juga mendapat pujian luas dari berbagai kalangan, baik dari masyarakat Batak sendiri maupun dari warga non-Batak yang menilai bahwa penampilan keduanya mencerminkan kerendahan hati, penghargaan terhadap kearifan lokal, dan semangat persatuan nasional.
Kunjungan itu menjadi momen bersejarah karena merupakan kunjungan pertama kalinya Presiden Soeharto ke wilayah Tapanuli Utara, sebuah daerah yang dikenal sebagai pusat spiritual dan kebudayaan Batak. Kehadiran Kepala Negara bersama Ibu Tien disambut hangat oleh ribuan warga dan jemaat HKBP yang memenuhi kawasan Pearaja, Tarutung, sembari mengalungkan ulos kehormatan sebagai simbol kasih dan penghargaan kepada pemimpin bangsa.
Menariknya, jika dibandingkan dengan masa kini, Presiden ke-7 Joko Widodo justru tercatat sering berkunjung ke Tapanuli Utara dan kawasan Tapanuli Raya dalam berbagai kegiatan kenegaraan bersama kabinetnya. Namun, kunjungan Pak Harto dan Ibu Tien pada 1986 tetap dikenang sebagai peristiwa monumental yang menandai kedekatan pemimpin nasional dengan budaya Batak dan menegaskan pesan persaudaraan lintas suku, agama, dan daerah di tengah keberagaman Indonesia. (red-MS)