Eropa Keluarkan Warganya dari Iran, Jerman Tuding Rusia-China
ISTANBUL || MTUNews.com – Sejumlah negara Eropa, termasuk Italia, Polandia, Jerman, dan Spanyol, pada Rabu (14/1) mengimbau warganya untuk segera meninggalkan Iran seiring meningkatnya kekhawatiran keamanan akibat gelombang protes anti-pemerintah yang terus berlanjut di negara tersebut. Pemerintah Italia menyebutkan sekitar 600 warga negaranya berada di Iran, sebagian besar di Teheran, dan secara tegas meminta mereka segera kembali ke tanah air.
Imbauan serupa disampaikan Kementerian Luar Negeri Polandia melalui platform X dengan meminta warga Polandia menghindari perjalanan ke Iran. Jerman juga memperingatkan warganya agar tidak bepergian ke Iran serta mendesak mereka yang sudah berada di sana untuk segera meninggalkan negara itu, dengan alasan adanya risiko penangkapan sewenang-wenang, sebagaimana disampaikan Kedutaan Besar Jerman di Teheran. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Spanyol menilai situasi di Iran dan kawasan sekitarnya sangat tidak stabil dan meminta warga Spanyol yang berada di Iran untuk keluar melalui sarana yang tersedia.
Di tengah situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul melontarkan kritik keras terhadap Rusia dan China atas dukungan berkelanjutan mereka terhadap rezim Iran. Dalam wawancara dengan penyiar publik ARD di Washington, DC, Selasa (13/1) waktu setempat, Wadephul menyebut kerja sama antara Iran, Rusia, dan China sebagai “segitiga yang bertanggung jawab atas banyak kemalangan di dunia.” Ia menuduh pemerintah Iran menekan demonstrasi dengan kekerasan berlebihan dan menilai rezim Teheran telah kehilangan legitimasi untuk memerintah, seraya menyerukan agar Iran diisolasi secara tegas.

Wadephul juga mengatakan Berlin telah meningkatkan upaya diplomatik untuk mendorong sanksi yang lebih keras, termasuk mengupayakan agar Garda Revolusi Iran dimasukkan ke dalam daftar sanksi anti-teror Uni Eropa. Menanggapi pertanyaan mengenai peringatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran dan spekulasi kemungkinan intervensi militer, Wadephul mengungkapkan bahwa ia telah membahas perkembangan terbaru dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, namun menegaskan belum ada keputusan final.
Sebagai sekutu utama Israel, Jerman mengambil sikap garis keras terhadap pemerintah Iran di tengah meluasnya protes. Kanselir Friedrich Merz sebelumnya menyatakan bahwa rezim Teheran tengah menghadapi hari-hari dan pekan-pekan terakhirnya. Pada Selasa, Duta Besar Iran juga dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Jerman, yang mengecam keras tindakan brutal aparat Iran terhadap warganya dan mendesak penghentian kekerasan serta penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia.
Iran sendiri telah diguncang gelombang protes sejak 28 Desember, yang bermula di Grand Bazaar Teheran akibat anjloknya nilai tukar rial dan memburuknya kondisi ekonomi, sebelum menyebar ke sejumlah kota lain. Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut. Hingga kini tidak ada angka resmi korban jiwa, namun kelompok HAM berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), memperkirakan lebih dari 2.500 orang tewas, lebih dari 1.100 orang terluka, dan sekitar 18.000 orang ditahan, meski angka-angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan berbeda dari perkiraan lainnya.
Sumber: Anadolu.










