Ia menyebut saat ini terdapat lebih dari 42 ribu pondok pesantren dengan jumlah santri melampaui 11 juta orang. Angka tersebut, kata Gibran, bukan sekadar statistik, melainkan mencerminkan kekuatan strategis yang berperan dalam mencetak sumber daya manusia berakhlak sekaligus mandiri secara ekonomi.
Gibran menegaskan bahwa pesantren selama ini telah melahirkan banyak tokoh bangsa, ulama, pejuang kemerdekaan, hingga pelaku usaha yang menggerakkan ekonomi umat. Selain pendidikan keagamaan, pesantren juga dinilai mampu mengembangkan keterampilan praktis di berbagai sektor seperti pertanian, peternakan, konveksi, dan industri halal. Ia mencontohkan produk digital printing dari unit usaha salah satu pesantren di Semarang yang telah menembus pasar internasional sebagai bukti kapasitas ekonomi pesantren.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pemerintah mendorong pesantren untuk bertransformasi dengan memperkuat penguasaan bidang pertanian modern, peternakan modern, robotika, blockchain, hingga kecerdasan buatan. Santri diharapkan tidak hanya menjadi penjaga nilai moral, tetapi juga pelopor inovasi yang mampu menciptakan peluang ekonomi baru tanpa meninggalkan jati diri dan akhlak.
Gibran menambahkan masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi, mulai dari tata kelola kelembagaan, akses terhadap teknologi dan pelatihan, hingga permodalan. Melalui pembentukan Ditjen Pesantren, pemerintah ingin meningkatkan kualitas layanan pendidikan, memetakan persoalan yang dihadapi pesantren, serta mendorong transformasi pesantren menjadi pusat inovasi dan penggerak ekonomi lokal sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional. (red-win)