MTU News
Beranda Ekonomi & Bisnis Selat Hormuz Bergejolak, Dunia Siaga Energi

Selat Hormuz Bergejolak, Dunia Siaga Energi

Foto: Kapal patroli keamanan Iran memantau pergerakan kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Foto: France24

JAKARTA || MTUNews.com – Selat Hormuz kembali menjadi perhatian dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Jalur laut yang berada di antara Iran dan Oman ini memiliki panjang sekitar 150 kilometer dengan lebar tersempit hanya sekitar 33 kilometer. Meski relatif sempit, selat tersebut menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.

Dari perairan inilah sebagian besar pasokan minyak mentah dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Iran, dan Uni Emirat Arab dikirim ke berbagai negara. Setiap hari sekitar 17 juta hingga 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz, jumlah yang setara dengan hampir seperlima perdagangan minyak global. Selain minyak mentah, sebagian besar gas alam cair dari kawasan Teluk juga dikirim melalui jalur strategis ini.

Ketegangan terbaru dipicu setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Peristiwa tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk. Iran kemudian mengeluarkan peringatan kepada sejumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz, sehingga memicu kehati-hatian dari perusahaan pelayaran dan operator kapal tanker.

Sebagian kapal tanker dilaporkan menunda perjalanan atau menunggu di perairan sekitar Teluk Persia sambil memantau perkembangan situasi keamanan. Meski pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional, ketidakpastian di kawasan tersebut tetap memicu kekhawatiran di pasar energi global.

Dampaknya segera terasa di pasar komoditas energi dunia. Harga minyak mentah sempat melonjak hingga menembus lebih dari 100 dolar AS per barel karena kekhawatiran gangguan distribusi pasokan energi global. Gangguan sekecil apa pun di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi, meningkatkan biaya transportasi, serta menambah tekanan inflasi di berbagai negara.

Menghadapi situasi tersebut, sejumlah negara mulai mengambil langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas pasokan energi. Negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah memperkuat cadangan energi dan menerapkan kebijakan penghematan energi, sementara negara-negara Barat juga menyiapkan pelepasan cadangan minyak strategis guna meredam gejolak harga di pasar global. (red-ms)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan