Penunjukan ini menandai babak baru dalam karier Dudung, yang sebelumnya menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional di era pemerintahan Prabowo Subianto.
Dudung bukan sosok baru di lingkungan militer. Lulusan Akademi Militer (Akmil) 1988 ini memulai kariernya di Korps Infanteri TNI Angkatan Darat. Pria kelahiran Bandung, 19 November 1965, itu mengawali penugasan sebagai komandan peleton di Yonif Raider Khusus 744/Satya Yudha Bakti, Atambua, Nusa Tenggara Timur, pada 1989–1994.
Kariernya terus menanjak dengan berbagai penugasan strategis, mulai dari komandan kompi hingga perwira di bidang pendidikan dan operasi. Dudung kemudian dipercaya menjabat Wakil Komandan Yonif 401/Alugoro, Kepala Staf Kodim 0733/BS Semarang, hingga perwira senior di Kodam II/Sriwijaya.
Saat berpangkat letnan kolonel, ia mengemban tugas sebagai Komandan Yonif 143/Tri Wira Eka Jaya, Dandim 0406/Musi Rawas, serta Dandim 0418/Palembang. Kariernya kian melejit setelah meraih pangkat kolonel dan menduduki sejumlah posisi di Mabes TNI.
Dudung mulai memasuki jajaran perwira tinggi setelah diangkat sebagai Wakil Gubernur Akmil (2015–2016), kemudian menjabat Gubernur Akmil (2018–2020). Ia juga pernah menjadi Pangdam Jaya (2020–2021), sebelum dipercaya sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD (Pangkostrad) pada 2021.
Pada tahun yang sama, Presiden saat itu, Joko Widodo, menunjuk Dudung sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD). Ia menjabat posisi tersebut hingga memasuki masa purnatugas pada 19 November 2023.
Selama menjabat Pangdam Jaya, Dudung sempat menjadi sorotan publik atas sejumlah kebijakannya, termasuk penertiban atribut organisasi kemasyarakatan di ruang publik.
Kini, sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Dudung diharapkan mampu memperkuat koordinasi program prioritas pemerintah serta memastikan implementasi kebijakan strategis berjalan efektif di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. (red-win)