Ferdinand Lumban Tobing: Dokter, Pemimpin, dan Pejuang dari Tapanuli
Daftar isi:
- Berjanggut Putih dan Bertongkat, Ferdinand Lumban Tobing Memimpin Perlawanan dari Hutan
- Masa Kecil dan Menjadi Anak Angkat Pendeta
- Dari Mahasiswa Kedokteran Menjadi Pengabdi Masyarakat
- Pernah Mengobati Sultan Kutai
- Membela Rakyat di Tengah Pendudukan Jepang
- Jabatan Digunakan untuk Melindungi Rakyat
- Dari Residen hingga Gubernur
- Gubernur Militer yang Turun ke Tengah Rakyat
- Wafat dan Penghormatan
Berjanggut Putih dan Bertongkat, Ferdinand Lumban Tobing Memimpin Perlawanan dari Hutan
TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Ia tidak mengenakan seragam militer. Tidak ada tanda pangkat atau bintang jasa di dadanya. Tubuhnya renta, langkahnya ditopang tongkat, sementara janggut putih menghiasi wajahnya.
Namun, sosok sederhana itu justru menjadi salah satu tokoh penting dalam perjuangan rakyat Tapanuli menghadapi Belanda.
Dialah Dr. Ferdinand Lumban Tobing.

Sebagai Gubernur Militer, Ferdinand bukan pemimpin yang hanya duduk di balik meja. Ia turun langsung ke lapangan, menyusuri pegunungan, keluar-masuk hutan, dan berada di tengah rakyat ketika situasi semakin sulit.
Penampilannya pun jauh dari kesan seorang pemimpin militer. Ia dikenal berwajah tenang, berwibawa, dan berpenampilan sederhana dengan jas serta pantalon putih. Dalam kesempatan tertentu, ia bahkan mengenakan sarung sehingga sekilas tampak seperti seorang pendeta.
Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan keberanian, keteguhan, dan kepedulian yang luar biasa terhadap rakyat.
Masa Kecil dan Menjadi Anak Angkat Pendeta
Ferdinand Lumban Tobing lahir di Sibuluan, Tapanuli Tengah, pada 19 Februari 1899. Ia merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara, putra pasangan Herman Lumban Tobing dan Laura Sitanggang.

Ayahnya, Herman Lumban Tobing, bekerja sebagai guru di sebuah sekolah desa di Sibuluan. Karena profesinya tersebut, Herman dikenal dengan gelar Raja Guru. Sementara kakeknya, Raja Mangalu, merupakan seorang misionaris di Kolang.
Atas kehendak Raja Mangalu, Herman kemudian dikirim ke Depok untuk menempuh pendidikan di sekolah zending. Di sana, ia bersahabat dengan Jonathan Pasanea, seorang pendeta asal Ambon.
Persahabatan tersebut kelak membawa perubahan besar dalam kehidupan Ferdinand.
Sebelum Ferdinand lahir, ayahnya pernah bernazar bahwa apabila anak yang dilahirkan adalah laki-laki, anak tersebut akan diserahkan kepada Jonathan Pasanea untuk diasuh.

Nazar itu kemudian benar-benar dilaksanakan.
Ketika berusia sekitar lima tahun, Ferdinand dibawa ke Depok dan diasuh oleh Jonathan Pasanea sebagai anak angkat.
Di kota tersebut, Ferdinand menempuh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar berbahasa Belanda.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Ferdinand sempat memiliki keinginan untuk bekerja sebagai pegawai Kantor Pos, Telepon, dan Telegraf.

Namun, sebuah surat panggilan yang tidak terduga mengubah jalan hidupnya.
Ferdinand diminta mengikuti ujian masuk sekolah kedokteran School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia.
Menariknya, tidak ada seorang pun yang mengaku mendaftarkannya. Baik ayah kandung maupun ayah angkatnya tidak pernah memasukkan namanya ke STOVIA.
Ferdinand tetap mengikuti ujian tersebut dan dinyatakan lulus.

Prestasinya selama menempuh pendidikan kedokteran cukup baik sehingga ia dapat melanjutkan pendidikan hingga akhirnya memperoleh gelar dokter pada 1924.
Dari Mahasiswa Kedokteran Menjadi Pengabdi Masyarakat
Semasa menjadi mahasiswa STOVIA, Ferdinand mulai tertarik pada pergerakan nasional.
Ia aktif dalam organisasi pemuda, termasuk Jong Batak dan Jong Sumatranen Bond.
Namun, setelah menjadi dokter, keterlibatannya dalam politik praktis semakin berkurang. Ferdinand merasa perjuangan melalui partai politik sering kali terlalu banyak berkutat pada kepentingan kelompok.

Ia memilih jalan pengabdian melalui profesinya sebagai dokter.
Setelah lulus, Ferdinand bekerja sebagai dokter di bagian penyakit menular Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ) di Batavia, yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Pada 1931, ia dipindahkan ke Surabaya dan bertugas di bagian penyakit dalam.
Empat tahun kemudian, pada 1935, Ferdinand kembali ke tanah kelahirannya di Tapanuli. Ia sempat ditempatkan di Padang Sidempuan sebelum kemudian dipindahkan ke Sibolga, yang saat itu menjadi ibu kota Karesidenan Tapanuli.

Pengalaman berpindah-pindah tempat membuat Ferdinand semakin dekat dengan kehidupan masyarakat dari berbagai lapisan.
Ia bukan sekadar dokter yang mengobati penyakit, tetapi juga mulai memahami persoalan sosial yang dihadapi rakyat.
Pernah Mengobati Sultan Kutai
Dalam perjalanan pengabdiannya sebagai dokter, Ferdinand pernah ditempatkan di Tenggarong.
Di tempat tersebut, ia mendapat pengalaman yang semakin memperkuat reputasinya sebagai dokter.

Ferdinand berhasil menangani Sultan Kutai yang mengalami sakit parah setelah berbagai upaya pengobatan sebelumnya tidak memberikan hasil.
Dengan ketekunan dan keahliannya, Ferdinand merawat sang sultan hingga akhirnya sembuh.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya, Sultan Kutai kemudian mengangkat Ferdinand sebagai anak.
Membela Rakyat di Tengah Pendudukan Jepang
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, keadaan rakyat semakin sulit.

Obat-obatan langka, kondisi kesehatan memburuk, sementara banyak masyarakat tidak memiliki biaya untuk berobat.
Para romusha, atau pekerja paksa, menjadi salah satu kelompok yang paling menderita.
Ferdinand tidak tinggal diam.
Ia memberikan pengobatan kepada para pekerja paksa yang sakit. Sikap tersebut membuat pemerintah pendudukan Jepang curiga.

Nama Ferdinand bahkan masuk dalam daftar orang yang dicurigai dan dianggap harus disingkirkan.
Namun, keadaan kemudian berbalik.
Keahlian dan keberanian Ferdinand justru membuat Jepang mempercayainya. Ia kemudian dipercaya menduduki posisi penting di wilayah Tapanuli.
Salah satu peristiwa yang semakin memperkuat kepercayaan tersebut terjadi ketika seorang perwira Jepang bernama Inoue mengalami kecelakaan mobil di Sibolga.

Kondisinya semakin parah setelah dokter-dokter Jepang tidak berhasil memberikan penanganan yang efektif.
Ferdinand kemudian menawarkan bantuan.
Awalnya tawaran tersebut ditolak. Namun, karena kondisi Inoue semakin kritis, Ferdinand akhirnya diperbolehkan merawatnya.
Dengan ketekunan dan keahliannya, kondisi Inoue perlahan membaik hingga akhirnya sembuh.

Keberhasilan tersebut semakin memperkuat kepercayaan Jepang kepada Ferdinand.
Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah untuk Karesidenan Tapanuli.
Jabatan Digunakan untuk Melindungi Rakyat
Posisi tersebut menempatkan Ferdinand dalam situasi yang tidak mudah.
Di satu sisi, ia harus berhadapan dengan pemerintahan pendudukan Jepang. Di sisi lain, ia berusaha melindungi rakyat dari penderitaan akibat perang dan penjajahan.

Ketika kaum perempuan diperintahkan menjahit pakaian untuk tentara Jepang, Ferdinand meminta agar sisa kain dikumpulkan dan dibagikan kepada masyarakat yang kekurangan pakaian.
Saat itu, sebagian rakyat bahkan terpaksa menggunakan karung goni sebagai pakaian.
Menjelang berakhirnya pendudukan Jepang, Ferdinand mendirikan Badan Pertahanan Negeri di bawah kepemimpinannya.
Jepang bermaksud menjadikan para pemuda sebagai kekuatan untuk menghadapi Sekutu.

Namun, Ferdinand melihatnya sebagai kesempatan untuk mempersiapkan kekuatan rakyat menghadapi masa depan Indonesia yang merdeka.
Dari Residen hingga Gubernur
Menjelang kekalahan Jepang, Ferdinand dipercaya sebagai Wakil Muda Pemerintahan yang secara praktis turut mengatur jalannya pemerintahan.
Pada April 1945, ia diangkat menjadi Wakil Residen Tapanuli.
Setelah Indonesia merdeka, pemerintah pusat kemudian mengangkat Ferdinand sebagai Residen Tarutung.

Karier pemerintahan Ferdinand terus berkembang.
Setelah Konferensi Meja Bundar, ia diangkat menjadi Gubernur Provinsi Sumatera Utara, yang ketika itu mencakup wilayah Aceh, Sumatra Timur, dan Tapanuli.
Namun, Ferdinand tidak begitu saja menerima penggabungan tersebut.
Ia menilai ketiga wilayah memiliki adat, kebiasaan, serta karakter masyarakat yang berbeda sehingga tidak semestinya dipaksakan berada dalam satu provinsi.

Sikap tersebut memperlihatkan karakter Ferdinand yang tegas, tenang, dan berani mempertahankan pandangannya.
Gubernur Militer yang Turun ke Tengah Rakyat
Bagi Ferdinand, jabatan bukanlah alasan untuk menjaga jarak dari rakyat.
Ketika dipercaya sebagai Gubernur Militer, ia turun langsung ke lapangan.
Ia menyusuri pegunungan, keluar-masuk hutan, dan berada bersama rakyat yang menghadapi tekanan Belanda.

Penampilannya sangat sederhana.
Tubuhnya telah renta. Tongkat menjadi penopang langkahnya. Janggut putih membuatnya tampak seperti seorang tua yang seharusnya sudah beristirahat dari hiruk-pikuk perjuangan.
Tetapi semangatnya tidak pernah renta.
Ia bekerja begitu keras hingga kerap mengabaikan kondisi dirinya sendiri.

Beratnya tanggung jawab yang dipikul bahkan pernah ia gambarkan melalui sebuah pernyataan:
“Karena banyaknya kesulitan yang saya hadapi dalam jabatan saya, harus saudara tiga kali lipatkan umur saja sejak Jepang masuk sampai hari ini, karena beratnya tanggungan itu tiga kali lipat.”
Kalimat tersebut menggambarkan betapa berat beban yang harus dipikul Ferdinand selama menjalankan tugasnya.
Wafat dan Penghormatan
Dr. Ferdinand Lumban Tobing meninggal dunia di Jakarta pada 7 Oktober 1962, dalam usia 63 tahun.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di Kolang Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Jasa dan pengabdiannya kemudian dikenang melalui berbagai bentuk penghormatan.
Namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit umum di Sibolga dan Bandar Udara Ferdinand Lumban Tobing di Pinangsori, Tapanuli Tengah.
Ferdinand juga ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 17 November 1962 melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 361 Tahun 1962.

Ferdinand Lumban Tobing bukan sekadar seorang dokter.
Ia adalah dokter yang memilih mengabdikan ilmunya kepada rakyat, pejabat yang berani menggunakan kekuasaan untuk melindungi masyarakat, dan pemimpin yang tidak takut turun langsung ke tengah medan perjuangan.
Ia mungkin tidak mengenakan seragam militer. Tidak pula tampil dengan deretan tanda pangkat di dada.
Namun, ketika rakyat Tapanuli menghadapi masa-masa paling sulit, ia hadir bersama mereka.

Tubuhnya renta, langkahnya ditopang tongkat, tetapi keberaniannya tidak pernah tua.
Itulah Ferdinand Lumban Tobing—seorang dokter, pemimpin, dan pejuang yang namanya tetap hidup dalam sejarah perjuangan rakyat Tapanuli dan Indonesia. (red-win)


































