Dalam sambutannya, JTP mengaku bangga atas kehadiran para mahasiswa yang dinilainya sebagai kelompok intelektual dengan tingkat kemandirian tertinggi. Ia menekankan bahwa kemajuan Tapanuli Utara tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi erat antara pemerintah dan kalangan akademisi.
“Keberadaan IAKN dan mahasiswa adalah aset penting bagi daerah. Kalian akan menjadi motor penggerak pembangunan. Dalam budaya Batak, pendidikan adalah segalanya. Filosofi ‘Anakkon hi do hamoraon di au’ mencerminkan bahwa anak—melalui pendidikan—adalah kekayaan paling berharga,” ujarnya.
Dalam paparannya, JTP memaparkan tiga pilar utama pembangunan sumber daya manusia. Pertama, penguatan fondasi akademik melalui program TAPAMAJUMA yang berfokus pada peningkatan literasi dan numerasi. Kedua, pembentukan karakter dan kesadaran lingkungan melalui program SAITAPAIAS dan TABIR guna menciptakan lingkungan belajar yang bersih, disiplin, dan sehat. Ketiga, penguatan tata kelola dan eksekusi melalui peningkatan kualitas kepemimpinan kepala sekolah serta pembukaan akses menuju sekolah-sekolah unggulan.
Ia menegaskan, pemerintah tidak boleh bersikap pasif dan hanya menunggu lahirnya prestasi. Sebaliknya, perlu upaya sistematis dalam membangun fondasi pendidikan yang kuat, karakter yang unggul, serta tata kelola yang efektif dan berkelanjutan.
“Pendidikan berkualitas adalah hak seluruh masyarakat. Harus diberikan secara adil dan merata tanpa terkecuali,” tegasnya di hadapan peserta yang terdiri dari mahasiswa GMNI, BEM Kristiani, akademisi, serta jajaran perangkat daerah.
Upaya tersebut, lanjutnya, telah menunjukkan hasil konkret. Sedikitnya 62 pelajar asal Tapanuli Utara berhasil menembus berbagai sekolah unggulan nasional, seperti SMA Unggul Del, Taruna Nusantara, SMA Negeri 2 Balige (Soposurung), hingga SMA Unggulan Matauli Pandan. Bahkan, sebagian di antaranya berhasil meraih beasiswa ke perguruan tinggi internasional di Texas, Amerika Serikat, dan Rusia.
Menutup pemaparannya, JTP mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari keluarga, dunia usaha, hingga kalangan mahasiswa—untuk bersinergi mengawal arah kebijakan pendidikan tersebut. Ia optimistis, dengan kualitas SDM yang unggul, Tapanuli Utara dapat mewujudkan kemandirian pangan dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (red-win)